NADIKABAR.COM — Bagi Fitra, raungan ribuan motor yang memenuhi jalan Bahodopi setiap pergantian sif bukan sekadar bising. Itu menjadi tanda peluang bisnis terbuka lebar.
Pada 2017, ia membuka bengkel motor pertamanya di Desa Siumbatu yang dijaga oleh istrinya. Sementara Fitra masih bekerja di tambang di Kalimantan. Setahun kemudian, bengkel tersebut pindah ke Bahodopi, ke jalan yang saat itu belum sepenuhnya beraspal.
Setelah 14 tahun bekerja di tambang Kalimantan dan terdampak pandemi COVID-19, Fitra berhenti dan fokus mengurus bengkelnya sendiri. Keputusan itu diambil setelah ia mengamati mayoritas karyawan di kawasan industri IMIP menggunakan sepeda motor.
"Perubahannya cepat sekali. 2018 jalan belum beraspal, dua tahun kemudian warga membangun dengan masif, 2020 terus berkembang, dan 2026 sangat pesat," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (5/10/2026).
Sekitar 90 persen pelanggannya kini merupakan karyawan IMIP. Bengkel Segar Jaya Berkah telah memiliki enam cabang dengan lebih dari 50 karyawan, mulai dari admin hingga mekanik. Upah mekanik mencapai Rp8 juta per bulan.
Diketahui, Bahodopi terletak di sisi timur Sabuk Tengah Sulawesi, di tepi Teluk Tolo, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Selama puluhan tahun, kecamatan ini nyaris tak pernah masuk dalam percakapan nasional.
Semuanya bermula pada 2013, ketika pemerintah menetapkan kebijakan hilirisasi mineral dan melarang ekspor bijih mentah. Industri pengolahan didorong untuk berdiri di dalam negeri. Morowali, dengan kandungan nikel dan akses pantai Teluk Tolo yang memungkinkan pembangunan pelabuhan industri, menjadi pilihan. Tiang pancang pertama ditanam di tanah Bahodopi, dan kawasan itu kemudian dikenal sebagai Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).