NADIKABAR.COM — Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) mengingatkan masyarakat terhadap bahaya keropos tulang (osteoporosis), mengingat penyakit ini termasuk yang kerap tidak disadari karena berkembang tanpa gejala klinis yang tak terdeteksi (silent disease).
Dokter spesialis ortopedi Lusiana S Yulianti dalam konferensi pers Hari Osteoporosis Nasional (HON) 2026 di Bandung, Sabtu, menyebutkan osteoporosis seringkali baru terdeteksi saat penderita mengalami patah tulang mendadak, yang diawali oleh fase penurunan kepadatan mineral tulang atau osteopenia.
"Osteoporosis dikenal sebagai silent disease atau penyakit yang kerap tidak disadari karena dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Penderitanya mungkin baru mengetahui kondisi tersebut ketika mengalami patah tulang," kata Lusiana yang merupakan Ketua DPC Perwatusi Kota Cirebon itu.
Lusiana mengungkapkan wanita memiliki potensi bahaya lebih besar mengalami osteoporosis, di mana statistik mencatat satu dari lima perempuan berusia 50 tahun ke atas dan satu dari tujuh laki-laki berisiko tinggi mengalami osteoporosis.
Ia menegaskan perempuan pascamenopause memiliki kerentanan lebih tinggi akibat penurunan hormon estrogen.
"Sehingga sejatinya pencukupan nutrisi kalsium dan aktivitas fisik pembentukan tulang wajib dipupuk sejak usia muda," kata dia.