NADIKABAR.COM — Rangkaian tradisi Metri Bumi dalam rangka Hari Jadi ke-832 Trenggalek kembali digelar. Tradisi tersebut kali ini dilaksanakan di mata air Sumbergedong, Pundensari, Kecamatan Gandusari.
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin mengatakan tradisi Metri Bumi merupakan salah satu bentuk ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa berupa sumber air yang melimpah sehingga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat di sekitarnya.
Ia melihat mata air Sumbergedong merupakan salah satu anugerah yang perlu disyukuri oleh masyarakat, sebab di saat musim kemarau tiba, masih mengeluarkan air dan bisa dimanfaatkan untuk irigasi pertanian.
"Ini pesan, selama kita masih bisa melestarikan seperti ini, alam dengan ijin Tuhan bisa memberikan kebaikan untuk kita. Baik itu berupa panen atau yang lain-lain," kata M Nur Arifin, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya pesan lestari menjadi salah satu esensi dari upacara adat metri bumi yang digelar di berbagai lokasi. Bupati mengajak masyarakat untuk senantiasa hidup berdampingan dengan alam dengan cara menjaganya.
"Sumber-sumber air didatangi bukan berarti menjalankan kegiatan yang menyimpang dengan kaidah agama, melainkan justru sebagai bentuk upaya menjaganya," jelasnya.
Dalam kegiatan Metri Bumi, Arifin menyelimuti pohon-pohon besar di sana dengan kain batik. Hal ini ditujukan agar masyarakat mau menjaga pohon-pohon itu karena pohon itulah yang menjaga air di sumber mata air masih mengalir.
Tidak hanya menjaga pohon yang sudah ada, kepala daerah muda itu juga menambah vegetasi pohon di sekitar sumber air dengan menanam pohon beringin di sana.
"Ini rangkaian dari kegiatan Hari Jadi, sama dengan yang sebelumnya. Tapi kali ini kita di Desa Gandusari, ada di Punden Sari dan sumbernya Sumbergedong," jelasnya.
Arifin menambahkan program pelestarian alam menjadi salah satu fokus pemerintah daerah, mengingat wilayahnya mayoritas pegunungan dan rentan berbagai ancaman bencana.
"Dengan alam yang lestari, Insyaallah alam Trenggalek juga akan dijauhkan dari bencana," jelasnya.