Siswa berikutnya, Erziza Febriani Chaniago, berasal dari Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang. Ayahnya juga bekerja sebagai buruh harian lepas, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga.
Erziza mengaku sempat ragu apakah dirinya bisa melanjutkan sekolah. Kini, selain belajar, ia aktif menari dan mengikuti cabang olahraga atletik. Berat badannya juga bertambah dari 45 menjadi 49 kilogram sejak mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
"Awalnya itu saya merasa tidak percaya diri dan saya tidak merasa akan bisa lanjut sekolah. Jadi, saya ragu atas apakah saya bisa lanjut sekolah, apakah saya bisa menjadi orang ke depannya," kata Erziza.
"Dan atas program Bapak Presiden Prabowo ini, saya sangat senang atas Sekolah Rakyat karena saya bisa berprestasi, berkreasi di sini," lanjutnya.
Percakapan dengan kedua siswa itu kemudian dibawa Gus Ipul kembali kepada para peserta pelatihan. Ia menunjukkan bahwa perubahan pada anak tidak terjadi hanya karena fasilitas sekolah, tetapi juga melalui pendampingan orang-orang yang setiap hari berada bersama mereka.
Gus Ipul menegaskan tiga hal yang tidak boleh terjadi di lingkungan Sekolah Rakyat, yakni perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi.
"Jangan lakukan tiga hal. Ini dosa besar di dunia pendidikan. Jangan lakukan perundungan, bullying. Jangan lakukan kekerasan fisik maupun seksual. Dan yang ketiga, jangan lakukan intoleransi," kata Gus Ipul.
Ia meminta seluruh unsur Sekolah Rakyat saling mengawasi dan menggunakan mekanisme pelaporan apabila menemukan indikasi pelanggaran. Identitas pelapor, kata Gus Ipul, akan dilindungi.
"Saya tidak ingin menandatangani untuk memberhentikan para tenaga kependidikan Sekolah Rakyat. Tapi justru sebaliknya, saya ingin menandatangani prestasi-prestasi yang ditorehkan oleh seluruh pemangku kepentingan Sekolah Rakyat," katanya.
Arahan sore itu berlangsung dua arah. Gus Ipul membuka kesempatan kepada para peserta untuk menyampaikan pengalaman maupun persoalan yang mereka temui selama mendampingi siswa.
Ayub Saputra, wali asuh SRT 3 Provinsi Bengkulu yang telah sekitar enam bulan bertugas, maju menyampaikan pengalamannya. Ketika ditanya Gus Ipul apakah betah menjadi wali asuh, Ayub menjawab mantap, "Betah."
Ia bercerita melihat perubahan karakter anak berlangsung sedikit demi sedikit, mulai dari kebiasaan bangun pagi hingga kedisiplinan sehari-hari. Pelatihan juga memberinya kesempatan bertukar pengalaman dengan wali asuh dan wali asrama dari daerah lain serta mempelajari cara berkomunikasi dan memberikan pelayanan kepada anak.