NADIKABAR.COM — Harga cabai mengalami lonjakan, terutama cabai rawit merah yang telah menembus Rp 90.000 per kilogram (kg). Kenaikan harga ini dipicu oleh gangguan produksi akibat cuaca ekstrem dan kekurangan air.

Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia Tunov Mondro Atmojo mengatakan tren kenaikan harga ini sebenarnya sudah dirasakan di tingkat petani sejak pertengahan Agustus lalu. Menurutnya, faktor utama di balik meroketnya harga cabai adalah krisis ketersediaan air yang dipicu oleh cuaca sangat panas dan fenomena El Nino.

"Penyebab kenaikan ini disebabkan karena murni faktor cuaca dan mengakibatkan ketersediaan air habis, tanaman cabai yang telah petani tanam akhirnya hanya mengandalkan tanaman eksisting yang sedang berproduksi," ujar Tunov dalam keterangan tertulis kepada redaksi, Minggu (13/9/2026).

Kondisi cuaca yang sangat panas tanpa ketersediaan air yang cukup membuat pohon cabai mengalami gagal bunga, sehingga berhenti memproduksi bunga baru. Akibatnya, petani hanya mampu merawat sisa cabai yang masih bertahan di pohon.

Tunov bahkan menyebut ancaman penurunan produksi sangat terasa di tingkat produsen, di mana upaya petani untuk menanam kembali kerap gagal karena bibit tidak dapat hidup tanpa pasokan air yang memadai.