NADIKABAR.COM — Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NadiKabar) - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Lahendong, Sulawesi Utara, memperkuat upaya konservasi keanekaragaman hayati melalui pelindungan satwa endemik yaki (Macaca nigra) serta pengembangan agroforestri aren yang memadukan pelestarian lingkungan dengan potensi ekonomi masyarakat.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani dalam keterangannya yang diterima di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Rabu, mengatakan bahwa pengembangan panas bumi perlu berjalan berdampingan dengan pelindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

“Pengembangan panas bumi perlu melihat konteks ekologis dan sosial di setiap wilayah operasi. Bagi PGE, keberlanjutan merupakan bagian dari bagaimana kami menjalankan operasional dan mengembangkan potensi panas bumi dengan tetap memperhatikan pelindungan keanekaragaman hayati serta manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi,” kata Ahmad Yani.

Adapun yaki, monyet endemik Sulawesi yang berstatus critically endangered (CR) dan termasuk satwa dilindungi, menjadi salah satu satwa yang mendapatkan perhatian dalam upaya konservasi PGE Area Lahendong.

Berdasarkan hasil survei dan pengamatan lapangan, tercatat keberadaan sembilan individu monyet yaki yang selanjutnya masuk ke tahap habituasi di Hutan Rurukan sebelum dilakukan pelepasliaran.

Upaya konservasi yaki juga dilakukan melalui program “Lestari Manimpang: Dengan ‘Mapalus’ Torang Lestarikan dan Lindungi Monyet Yaki”. Berdasarkan data program, tercatat keberadaan lima individu yaki pada area sekitar 6,94 hektare.

Selain perlindungan fauna, PGE Area Lahendong mengembangkan “SEGARIS PELANGI: Strategi Pengembangan Industri Gula Aren Berbasis Agroforestri dan Pemanfaatan Langsung Panas Bumi”.

Program ini mengembangkan tanaman aren dengan pendekatan agroforestri, dengan tetap mempertahankan naungan dan vegetasi alami hutan, sehingga pemanfaatan lahan dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan.

Dalam data Dokumen Ringkasan Kinerja Pengelolaan Lingkungan (DRKPL), program SEGARIS PELANGI mencatat 789 individu tanaman aren pada area seluas 6,7 hektare.

General Manager PGE Area Lahendong Yanuaris Dwi Cahyono mengatakan bahwa konservasi di wilayah operasi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi ekosistem setempat serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

“Konservasi di wilayah Lahendong kami lakukan dengan melihat kondisi lingkungan dan potensi yang ada di sekitar wilayah operasi.Kami terus mendorong kolaborasi degan berbagai pihak agar upaya perlindungan ekosistem dan satwa dapat berjalan berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Yanuaris.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, PGE Area Lahendong terus mendorong upaya konservasi yang sesuai dengan karakteristik wilayah operasi, dengan mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati, keterlibatan masyarakat, serta mengembangkan potensi ekonomi lokal.