NADIKABAR.COM — Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Makassar, menggelar Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Buatan melalui program PGRI Power Tahun 2026.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin saat membuka kegiatan tersebut di Makassar, Selasa, menekankan, pentingnya profesionalitas dan kemampuan adaptasi guru dalam menghadapi perkembangan teknologi digital, khususnya kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).
"Kalau kita berpikir dalam dan detail tentang pendidikan, artinya kita berpikir tentang masa depan. Masa depan yang baik, masa depan yang berhasil harus dimulai dengan kuatnya fondasi masa sekarang," ujarnya
Menurut Munafri, guru tidak cukup hanya menguasai metode pembelajaran konvensional, tetapi juga harus mampu mengikuti perkembangan zaman agar tetap relevan dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik masa kini.
Ia menilai, perkembangan teknologi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Algoritma dan kecerdasan buatan kini menjadi bagian dari keseharian, termasuk dalam pola komunikasi, akses informasi, hingga cara generasi muda belajar dan berinteraksi.
Namun, di tengah pesatnya perkembangan tersebut, wali kota menegaskan teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran guru dalam proses pendidikan.
Menurut dia, proses belajar-mengajar tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi dan transfer pengetahuan. Di dalamnya terdapat empati, hati, dan jiwa yang menjadi bagian penting dari hubungan antara guru dan peserta didik.
Karena itu, tantangan bagi guru saat ini bukan menghindari perkembangan teknologi, melainkan menguasainya dan memanfaatkannya sebagai sarana untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini.
"Kita mau, bagaimana guru-guru mampu menaklukkan teknologi dan menjadikan teknologi sebagai sarana yang tepat untuk menghasilkan proses belajar-mengajar yang baik bagi anak-anak kita," jelasnya.
Pada kesempatan itu, Munafri menekankan perbedaan karakteristik peserta didik dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menurutnya, perubahan pola komunikasi dan perilaku anak-anak saat ini tidak bisa semata-mata dinilai menggunakan ukuran pengalaman pendidikan pada masa lalu.
Dia menggambarkan, pada masa lalu, guru memiliki wibawa yang membuat murid cenderung menjaga jarak. Kini, peserta didik lebih terbuka untuk berkomunikasi, bertanya, bahkan menyampaikan pandangan secara langsung kepada guru.
"Perubahan tersebut merupakan bagian dari dinamika zaman yang perlu dipahami oleh tenaga pendidik," tuturnya.
Ia menegaskan, guru perlu memiliki sikap adaptif agar mampu membangun komunikasi yang baik dengan peserta didik serta memahami perkembangan bahasa, pola pikir, dan lingkungan digital yang memengaruhi kehidupan mereka.
"Yang harus menjadi tugas kita adalah menjadi guru yang adaptif. Kuncinya ini, adaptif, mampu mengikuti perkembangan," ungkapnya.
Menurut Munafri, kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari profesionalitas guru. Dengan memahami perkembangan zaman, tenaga pendidik dapat menghadirkan pendekatan pembelajaran yang lebih relevan tanpa kehilangan nilai-nilai dasar pendidikan.