Selain memilih 435 anggota DPR, pemilihan paruh waktu ini juga akan memilih senator. Masa jabatan seorang senator AS berlangsung selama enam tahun. Masing-masing dari 50 negara bagian memiliki perwakilan dua senator, terlepas dari ukuran negara bagian tersebut. Dua tahun sekali, sekitar sepertiga dari kursi senator kembali diperebutkan. Pada pemilihan sela 2026i, warga Amerika hanya akan memilih 35 dari 100 kursi senat, tidak mencakup pemilihan perwakilan senat di setiap negara bagian.

Selain itu, warga dari 36 negara bagian juga akan memilih gubernur dengan masa jabatan empat tahun. Di AS, banyak keputusan diambil di tingkat negara bagian, mulai dari undang-undang aborsi, masalah pendidikan, hingga penyelenggaraan semua pemilihan umum. Oleh karena itu, apakah Partai Demokrat atau Partai Republik yang memegang kendali di suatu negara bagian, ini akan sangat berpengaruh pada kehidupan warga setempat.

Saat ini, Partai Republik, partai Presiden Trump, memegang mayoritas di kedua majelis Kongres. Namun, mereka hanya unggul tipis dengan partai Demokrat.

Saat ini terdapat 218 House of Representative dari Partai Republik, 214 dari Partai Demokrat, dan seorang anggota independen yang biasanya memberikan suara bersama Partai Republik. Dua kursi lainnya masih kosong. Para ahli menilai kemungkinan besar Partai Demokrat akan merebut kursi mayoritas pada pemilu mendatang. "Akan menjadi kejutan jika Partai Demokrat setidaknya memenangkan kursi House of Representative," kata Coleman kepada stasiun TV AS CBS pada akhir Oktober lalu.

Saat ini, di Senat terdapat 53 anggota Partai Republik dan 45 anggota Partai Demokrat, serta dua senator independen yang biasanya memberikan suara bersama Partai Demokrat. Jika terjadi kebuntuan 50:50 dalam pemungutan suara di Senat, wakil presidenlah yang akan mengambil keputusan. Dengan demikian, JD Vance dari Partai Republik, menjadi penentu hasil akhir.

Meskipun tingkat partisipasi pemilih dalam pemilihan sela lebih rendah dibandingkan pemilihan presiden, hasil pemilihan sela ini berpengaruh besar terhadap politik AS dalam beberapa tahun mendatang. Meskipun Presiden AS memiliki kekuasaan yang besar dan dapat mengambil keputusan lewat perintah eksekutif (yang terkenal dengan sebutan "executive orders"), banyak kebijakan harus terlebih dahulu disetujui oleh Kongres, jika tidak, kebijakan tersebut tidak dapat dilaksanakan.

Oleh karena itu, bagi Trump, akan jauh lebih mudah untuk memimpin AS, mengikuti keinginannya jika Partai Republik menguasai mayoritas suara di kedua majelis Kongres. Jika Partai Demokrat berhasil meraih mayoritas di salah satu atau bahkan kedua majelis tersebut, Trump akan menghadapi kesulitan besar menerapkan perubahan-perubahan kebijakan dalam dan luar negeri.