Saat itu lah, si balita kembar yang laki-laki jasadnya berhasil ditemukan. Balita itu ditemukan dalam kondisi duduk di dekat kamar.
"Pojok deket kamar, duduk," ungkap Marzuki.
Marzuki mengungkap dugaan awal kebakaran tersebut. Dia mengatakan dugaan awal, kebakaran disebabkan adanya korsleting listrik pada stop kontak ke kulkas.
Marzuki mengatakan dugaan awal ini disampaikan oleh kakak korban. Sang kakak, sebut Marzuki, menyampaikan kemunculan api pertama kali dari colokan kulkas.
"Kan kita coba nanya ke anaknya juga. Kita juga nggak begitu ini (nyari tahu) banget kan. Dia melihat ada api di colokan itu, colokan kulkas itu ya. Tapi wallahuaalam ya," kata Marzuki.
Marzuki juga menjelaskan, bahwa orang tua dari korban sedang bekerja saat kejadian. Biasanya, kata dia, balita kembar itu dititip oleh kedua orang tuanya ke rumah saudara mereka.
Namun lantaran kakak dari si balita kembar iti sedang libur sekolah, maka kedua orang tuanya tak menitipkan si balita kembar ke saudaranya.
"(Orang tua korban) kerja dua-duanya. Karena kakaknya itu libur, jadi kakaknya yang rawat. Kalau kakaknya masuk (sekolah), anak itu dititipin. Iya, (hari itu) dijagain kakaknya itu," ungkap Marzuki.
Dia mengatakan, ayah korban saat mendengar kabar rumahnya kebakaran pun langsung pulang dari lokasi kerja. Ayah korban juga sempat ingin menerabas masuk ke rumah untuk menolong korban.
Tetapi saat itu kondisinya tidak memungkinkan. Ayah korban pun saat itu coba ditenangkan oleh warga hingga akhirnya mengetahui bahwa salah satu anaknya menjadi korban tewas dalam peristiwa tersebut.
"Setelah padam, ini bapaknya tiba-tiba datang tuh. Bapaknya mau itu (ke dalam), kita larang. Karena bahaya juga buat ini (keselamatan) ya. Kita keluarin dulu, tenangin dulu di sini, kita masukin ke sini biar tenang dulu. Udah jangan, dia jangan jangan kita kasih tahu dulu. Khawatir," pungkasnya.