NADIKABAR.COM — Kabar memilukan datang dari remaja perempuan berinisial LA (17) yang dibakar nenek, M (64), karena tak mau menjemput di Bojongsari, Depok, Jawa Barat (Jabar). Korban dinyatakan meninggal dunia hari ini.

"Iya betul (meninggal) tadi jam 11.45 WIB," ujar Kanit PPA Polres Metro Depok AKP Tamar Bekti saat dihubungi wartawan, Minggu (8/11/2026).

Tamar mengatakan korban akan dibawa dari RS Fatmawati menuju rumah duka. Jasad korban dimakamkan Minggu (8/11).

Korban sempat mengalami koma sejak Jumat (30/10). Korban mengalami luka bakar hingga 80%.

Sebagaimana diketahui, peristiwa pembakaran itu terjadi pada Senin (26/10) sekitar pukul 13.40 WIB di Bojongsari, Depok. Kejadian bermula saat M meminta LA menjemputnya di rumah seorang teman. Namun korban tidak memenuhi permintaan tersebut dan memilih pulang ke rumah.

"Namun korban tidak melakukan hal tersebut sehingga korban langsung pulang ke rumahnya," ujar Kasat Reskrim Polres Metro Depok AKBP Made Gede Oka Utama dalam jumpa pers, Kamis (29/10).

Setiba di rumah, M mendapati LA sedang bermain ponsel. Pelaku kemudian menegur korban hingga tersulut emosi. M lalu mengambil minyak tanah, menyiramkannya ke tubuh korban, dan melemparkan korek gas ke rok korban.

Api kemudian menyambar tubuh LA hingga korban berteriak kesakitan. Pelaku sempat berusaha memadamkan api dengan menyiramkan air ke tubuh korban.

Remaja perempuan berinisial LA (17) dibakar nenek, M (64), karena tak mau menjemput di Depok. Saksi bernama Martin mengaku mendengar korban berteriak meminta tolong.

"Waktu itu saya lagi di rumah, saya mendengar suara korban teriak minta tolong," ujar Martin kepada wartawan di Bojongsari, Depok, Senin (2/11/2026).

Martin mengatakan korban cukup lama berteriak meminta tolong. Teriakan korban semakin kencang sambil merintih kesakitan.

"Kayak dengar minta tolongnya itu sih ya agak lumayan lama. Cuma kan kita juga mau lihat karena pintunya dikunci, jadi kita nggak bisa lihat gitu kan. Dan yang lebih lebih kita ininya tuh semakin kencang dan teriak 'Sakit, ya Allah, Allahu Akbar'," ungkapnya.

Teriakan korban tersebut membuat dirinya dan tetangga lain melihat langsung apa yang terjadi. Namun saat dihampiri, kondisi pintu rumah masih terkunci.

"Kalau kita itu kita pertama kita langsung mendobrak, takutnya kita dikata ikut campur urusan orang gitu ya, kita juga agak gimana gitu kan. Tapi pas dia minta tolong, teriak 'Sakit, Allahu Akbar' baru kita berontak semua gitu," ujarnya.

Tetangga kemudian mendobrak pintu yang terkunci. Di situ, kondisi korban sudah memprihatinkan dengan penuh luka bakar.

"Empat orang apa lima orang gitu dobrak. Terus si korban sudah tergeletak dengan penuh luka bakar," tambahnya.

Nenek berinisial M (64) ditangkap polisi karena membakar remaja perempuan berinisial LA (17) di rumah kawasan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat (Jabar). M diduga pernah menganiaya hingga mencukur botak LA.

"Memang untuk informasi yang korban dibotakin itu sudah lama, maksudnya sudah bukan baru-baru ini ya. Jadi memang pernah memang mengaku dari kerabat-kerabat dari tetangga dan saksi-saksi memang pernah. Jadi pernah dibotakin," ujar kuasa hukum korban, Didiy Puji Riyanto, Senin (2/11/2026).

Anak baru gede (ABG) itu disebut kerap terlibat cekcok dengan M. Informasi terbaru, M bukan nenek kandung LA, melainkan ipar dari nenek korban.

Sebelum dibakar menggunakan minyak tanah, korban LA disebut pernah dianiaya oleh M. Tetangga di tempat kejadian perkara (TKP) tak langsung membantu karena keributan sering terjadi.

"Jadi sebelum terjadi kebakaran dibakar itu memang si korban ini seperti dipukulin dan itu di teras. Makanya itu yang punya bengkel itu melihat nih, cuman karena mereka 'ya itu mah udah biasalah itu kan' Memang sudah biasa kayak gitu, jadi kayak nggak heran," tambahnya.

Berdasarkan pengakuan teman korban, Didiy mengatakan LA kerap dianiaya sejak kelas III SMP. Saat ini korban duduk di kelas III SMA.

"Jadi saya juga syok, kaget. Ternyata temen-temennya korban itu dari SMP itu memang sudah sudah sudah sudah sering kayak gitu. Korban kan kelas III nih, kelas III SMA kan. Nah, semenjak SMP ternyata korban sering banget kayak gitu," tuturnya.

Korban juga kerap menangis saat di sekolah. Bahkan tubuh korban mengalami lebam dan memar imbas penganiayaan yang dilakukan oleh pelaku.