"20.30 WIB, lah saat kejadian itu. Korsleting listrik itu Pak, sebab api menyalanya dari atas," kata Hendra dengan suara tercekat saat ditemui di lokasi reruntuhan rumahnya.

Melihat api membesar di atas kepala dan angin malam berembus kencang, Hendra tak memikirkan hal lain selain nyawa para tetangganya. Sambil berlari, ia berteriak sekuat tenaga membangunkan warga sekitar dari kepungan bahaya.

"Begitu api menyala berkobar besar dari atas rumah, nah saya berteriak, panggil-panggil sama tetangga. 'Tolong keluar, tolong keluar, api membesar, kebakaran, kebakaran!' Nah begitu. Orang-orang yang ada di pemukiman itu keluar semua," ucapnya lirih.

Di tengah jerit tangis dan kepanikan malam itu, warga hanya bisa pasrah. Harta benda, perabotan, hingga dokumen penting dibiarkan hangus terbakar. Bagi mereka, yang terpenting anak dan keluarga bisa lolos dari maut.

"Kita nggak bisa bilang apa-apa lagi, kita menyelamatkan diri aja lah. Jadi masalah harta benda mah biarin lah, yang penting kita selamat dulu, nyawa gitu kan. Alhamdulillah nggak ada korban jiwa," ungkap Hendra berusaha tegar.