Hendra menuturkan, sedikitnya ada tujuh unit rumah yang bernasib sama dengannya, ludes terbakar hingga tak menyisakan apa pun. Jerih payah bertahun-tahun lenyap dalam hitungan jam.

"Nggak ada (harta yang tersisa), Pak. Habis semua. Tinggal ini, baju sama ini aja," katanya sambil memegangi pakaian yang masih melekat di badannya satu-satunya harta yang ia miliki saat ini.

Kini, para korban kebakaran harus menelan getir kehilangan tempat bernaung. Mereka kebingungan harus berteduh di mana untuk melanjutkan hidup. Sembari menatap reruntuhan abu yang tersisa, Hendra sangat berharap uluran tangan dan kepedulian dari pemerintah daerah agar mereka tak merasa sendirian menghadapi masa-masa sulit ini.

"Ada kemungkinan kita mungkin mau bernaung dulu di balai desa, kalaupun itu ada izin dari kepala desa. Nanti bagaimana pemerintah aja ataupun kepala desa. Harapannya mungkin dari pihak pemerintah, dari desa, kecamatan, tingkat kabupaten, bila perlu tingkat gubernur, boleh ditinjau ke sini," harap Hendra penuh pilu.