Bagi Keraton Kasepuhan, membersihkan benda pusaka bukan sekadar mencuci benda peninggalan masa lalu. Tradisi itu memiliki makna simbolis sebagai upaya membersihkan diri.
Benda-benda yang dibersihkan dalam Siraman Panjang itu jumlahnya cukup banyak. Di antaranya tujuh piring tapsi, 38 piring pengiring, dua guci, serta dua botol untuk minyak mawar.
"Kalau untuk piring tapsi itu tujuh, piring pengiring 38, ada guci dua, dan botol untuk minyak mawar juga dua," tuturnya.
Benda-benda tersebut merupakan peninggalan Sunan Gunung Jati. Usianya pun diperkirakan telah mencapai hampir enam abad.
"Benda-benda itu adalah peninggalan dari Sunan Gunung Jati, kurang lebih usianya hampir enam abad," kata Goemelar.
Setelah seluruh rangkaian Siraman Panjang selesai, benda-benda pusaka kembali disimpan. Namun, rangkaian tradisi belum berakhir.
Menurut Goemelar, beberapa benda pusaka, termasuk piring dan guci, nantinya akan kembali dikeluarkan dalam rangkaian puncak peringatan Maulid Nabi. "Nanti akan dikeluarkan dan diarak di acara puncak," kata dia.