NADIKABAR.COM β€” Saat ini sedang ada sebuah tren yang bernama food divorce atau kondisi dimana pasangan memakan makanan berbeda yang sesuai dengan minat masing-masing tanpa harus berdebat.

Psikolog berlisensi dan salah satu pendiri Authentic Connections Therapy and Wellness Brittany Woolford, PhD mengatakan situasi ini terjadi saat pasangan berhenti memprioritaskan makan bersama, terutama makan malam dan memilih untuk mengurus kebutuhan makanan mereka sendiri.

Dalam siaran Real Simple pada Selasa (29/9), ia menyebut pasangan yang memilih untuk memakan makanan berbeda nantinya akan mengurus semua aspek makanan mereka sendiri, mulai dari membeli dan memasak hingga memesan apa yang cocok untuk mereka.

Meski demikian, Woolford tidak melihat pasangan yang makan terpisah sebagai tanda bahaya tersendiri. Namun, bisa saja menjadi masalah apabila ada pola menghindar dan jarak yang besar dalam hubungan pasangan.

Apalagi jika salah satu pihak menganggap bahwa menyiapkan makanan setelah bekerja sampai malam sebagai aktivitas yang tidak menyenangkan dan justru menambah stres.

β€œKetika masing-masing pasangan mengurus makanan mereka sendiri, keduanya mendapatkan apa yang benar-benar mereka butuhkan, dan perencanaan, belanja, dan memasak tidak dibebankan secara tidak proporsional kepada satu orang,” kata Woolford.

Pelatih psikologi makan bersertifikat Jenny Eden Berk, MSEd menambahkan tren ini tidak terjadi secara terisolasi. Food divorce disebutnya sebagai perkembangan menuju otonomi yang lebih besar dalam hubungan sambil mempertanyakan atau menolak harapan yang ingin dilakukan bersama-sama.