Berk mengatakan baik pasangan dan keluarga selalu makan malam bersama setiap malam dan itu merupakan hal yang biasa. Tetapi rutinitas itu tidak selalu masuk akal jika dilihat dari perspektif jadwal dan selera individu.

Direktur terapi keluarga di Rumah Sakit Silver Hill Emily Longo, PhD, LMFT, menambahkan pasangan yang mengalami disabilitas, alergi makanan, atau jadwal yang tidak cocok sudah terbiasa memasak, berbelanja, dan makan secara terpisah sebagai bagian normal dari hubungan mereka.

Namun dari perspektif keterikatan, hubungan dipertahankan oleh momen dan ritual berulang untuk saling berkomunikasi, berbagi pengalaman, dan setiap orang berkomunikasi secara verbal maupun non-verbal.

“Waktu makan bisa menjadi salah satu momen tersebut, tetapi bukan satu-satunya. Bisa berupa secangkir kopi di pagi hari, jalan-jalan, duduk bersama sebelum tidur, atau ritual rutin lainnya setiap hari yang menjaga hubungan antara pasangan," ujar Longo.

Longo melanjutkan jika food divorce menghilangkan stres yang ditimbulkan oleh makan bersama dan menyiapkan makanan bersama, itu akan lebih sehat bagi pasangan tersebut daripada memaksakan apa yang mereka pikir apa yang perlu dilakukan, apa yang normal dan apa yang dilakukan pasangan lain.

Dalam mengatasi permasalahan ini, para pakar mengingatkan bahwa memperdalam hubungan dengan pasangan tidak harus melibatkan makanan.

Pasangan dapat mulai aktivitas bersama seperti memilih satu atau dua kali makan dalam seminggu untuk duduk bersama di meja makan meski makan makanan yang berbeda.