Opsi tersebut tidak otomatis lebih cepat atau murah, tetapi memberikan jalur eksekusi alternatif di tengah keterbatasan kapasitas pembangunan baru.
Selain memanfaatkan teknologi dan pemasok global untuk kebutuhan khusus, PLN EPI mendorong penguatan industri dalam negeri pada pekerjaan konstruksi, fabrikasi, tangki penyimpanan, perpipaan, sistem kelistrikan, galangan kapal, operasi dan pemeliharaan hingga jasa rekayasa.
"Kami membutuhkan kemampuan global untuk teknologi yang sangat khusus, tetapi skala pipeline proyek Indonesia dapat digunakan untuk secara bertahap membangun kemampuan domestik yang lebih kuat," ujar Agus.
Hingga 2029, PLN EPI menargetkan pengembangan hampir 20 lokasi terminal penerimaan LNG satelit darat, terdiri atas satu lokasi di Nias, enam di Sulawesi, sembilan di Nusa Tenggara, dan empat di Papua Utara melalui empat klaster mitra strategis joint development agreement (JDA)
Pengembangannya diarahkan dalam satu kerangka program terintegrasi agar puluhan terminal tersebut tidak membentuk rantai pasok yang berjalan sendiri-sendiri.
Menurut Agus, di tengah semakin ketatnya kapasitas industri global, keberhasilan pengembangan LNG tidak lagi hanya ditentukan oleh kesiapan investasi, tetapi kemampuan mengamankan dan menyinkronkan kapasitas eksekusi.
Melalui strategi tersebut, PLN EPI memastikan pembangunan infrastruktur LNG dapat berjalan tepat waktu untuk memperkuat ketahanan energi dan keandalan sistem kelistrikan Indonesia.