"Kita tahu kalau biomassa sudah digasifikasi, tentu ada hidrogen yang lepas di situ. Itu ditangkap dan akan dipakai oleh Pupuk Kujang sebagai off-taker," ujarnya.

Hokkop menilai keberadaan off-taker menjadi faktor penting agar pengembangan bioenergi tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi mampu membangun ekosistem industri yang berkelanjutan.

"Harapan kita, dua kerja sama ini bisa memperbesar bioenergi dan mempercepat cita-cita yang sudah dicanangkan dalam Permen ESDM dan juga secara internal di PLN Group," kata dia.

Saat ini PLN EPI terus mengembangkan pemanfaatan biomassa dari berbagai residu pertanian, perkebunan, dan limbah organik sebagai bagian dari diversifikasi energi primer nasional.

Selain mendukung program cofiring di pembangkit PLN, biomassa juga diarahkan menjadi bahan baku berbagai produk energi rendah karbon yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Melalui pengembangan bio-CNG dan hidrogen hijau, PLN EPI tidak hanya memperluas pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi terbarukan, tetapi juga membangun ekosistem bioenergi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

"Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah biomassa nasional, memperkuat ketahanan energi, sekaligus mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan," jelas Hokkop.