NADIKABAR.COM — Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam, Senin (28/9) menyerukan langkah untuk mengaktifkan kerangka tripartit Lebanon-Amerika Serikat-Israel guna memastikan penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
Seruan tersebut disampaikan dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di Washington.
Salam mengatakan pembicaraan tersebut membahas perkembangan di Lebanon dan kawasan sekitarnya, menurut pernyataannya di platform media sosial X.
“Saya menekankan perlunya bergerak menuju pengaktifan kerangka tripartit dan menerjemahkan prinsip timbal balik serta pendekatan bertahap ke dalam langkah-langkah praktis dan hasil nyata di lapangan,” katanya.
“Hal ini harus mengarah pada pemulihan kedaulatan penuh Lebanon, tercapainya penarikan penuh Israel dari wilayah Lebanon, serta memastikan negara memegang kendali eksklusif atas senjata di seluruh wilayah negara,” tambahnya.
Dalam konteks tersebut, ia menekankan pentingnya menetapkan jadwal yang jelas untuk melaksanakan komitmen yang tercantum dalam kerangka yang dimediasi AS dan ditandatangani Lebanon dan Israel pada 26 Juni.
Salam juga menyerukan mekanisme pemantauan yang “kredibel” untuk mengawasi pelaksanaan dan mencegah ketidakpatuhan menghambat proses tersebut.
Perdana menteri mengatakan kerangka tripartit tersebut tidak hanya mencakup pengaturan keamanan, tetapi juga mendukung bantuan, pemulihan, rekonstruksi, dan pemulangan warga yang mengungsi.
Salam meminta dukungan AS dan masyarakat internasional bagi pemulihan Lebanon dan pemulangan warga yang mengungsi, khususnya di wilayah yang terdampak perang, sekaligus mendesak kelanjutan dukungan AS untuk memperkuat Angkatan Bersenjata Lebanon.
Sementara itu, Rubio menegaskan kembali “komitmen kuat” AS untuk mendukung pelaksanaan kerangka tripartit oleh Lebanon, yang menurutnya “merupakan satu-satunya jalan menuju perdamaian yang langgeng antara Lebanon dan Israel”, kata Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan.
“Sekretaris Rubio mengapresiasi upaya pemerintah Perdana Menteri Salam untuk memperluas kewenangan negara dan menegaskan kembali dukungan Amerika Serikat terhadap negara Lebanon yang berdaulat dan berada di luar pengaruh merugikan Hizbullah dan Iran,” tambahnya.
Perjanjian kerangka yang disponsori AS tersebut mengatur penarikan pasukan Israel secara bertahap dari wilayah Lebanon dan pengerahan tentara Lebanon di wilayah yang ditinggalkan pasukan Israel.
Meski kesepakatan tersebut telah dibuat, Israel terus melancarkan serangan terhadap Lebanon.
Menurut otoritas Lebanon, serangan tersebut telah menewaskan sedikitnya 4.386 orang, melukai 12.407 orang, dan menyebabkan lebih dari 1 juta orang mengungsi sejak 2 Maret.
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan