NADIKABAR.COM — Perdana Menteri (PM) Spanyol, Pedro Sanchez, mengumumkan akan menggelar pemilu lebih awal pada 29 November mendatang. Pengumuman ini menyusul penolakan parlemen terhadap langkah-langkah bantuan perumahan yang diusulkan oleh pemerintahan Sanchez.

Situasi itu terjadi saat Spanyol marak dilanda unjuk rasa menuntut perumahan yang terjangkau beberapa waktu terakhir.

Kekalahan dalam voting di parlemen pada Jumat (2/10) waktu setempat, menandai kemunduran politik lainnya bagi PM dari kubu Sosialis tersebut. Sanchez menjadi salah satu dari sedikit PM Eropa berhaluan sayap kiri yang masih memegang kekuasaan.

"Untuk berbuat lebih banyak, kita perlu memperbarui dan memperluas dukungan rakyat," kata Sanchez, yang menjabat sejak tahun 2018, dalam pidato yang disiarkan televisi Spanyol, seperti dilansir AFP, Senin (5/10/2026).

"Kita perlu melakukan mobilisasi dan memenangkan dukungan mayoritas progresif yang jauh lebih besar di parlemen, dukungan yang memungkinkan kita mengatasi kepentingan-kepentingan mapan, mewujudkan kemajuan sosial baru, dan melanjutkan transformasi Spanyol," cetusnya.

PM Spanyol itu mengaku telah melakukan kesalahan dan belum sepenuhnya memenuhi janji-janji kampanyenya.

"Saya juga menyadari bahwa sebagian dari kelompok mayoritas sosial tersebut merasa tidak puas saat ini," ucapnya, sembari menambahkan bahwa dirinya bertekad memperjuangkan agar Spanyol tetap menjadi "benteng keterbukaan, keadilan sosial, dan tanggung jawab lingkungan".

Puluhan ribu demonstran melakukan aksi protes di Madrid dan kota-kota lainnya di Spanyol pada Sabtu (3/10) waktu setempat, untuk menuntut perumahan yang terjangkau.

Pemerintahan Sanchez mengusulkan langkah-langkah yang mencakup perpanjangan otomatis kontrak sewa dan pembatasan penggusuran penyewa dari kelompok rentan. Usulan itu ditolak oleh partai-partai oposisi dalam pemungutan suara di parlemen Spanyol.

Penolakan usulan itu semakin memicu kemarahan para demonstran yang memprotes pasar perumahan yang semakin mahal di negara tersebut, sekaligus menyoroti kesulitan yang dihadapi koalisi pemerintahan Sanchez, yang minoritas dalam parlemen, dalam mengesahkan undang-undang.

Krisis Perumahan Memanas Buntut Nenek 87 Tahun Digusur dari Apartemennya

Unjuk rasa di Spanyol memperpanjang krisis yang berlangsung selama lebih dari sepekan, yang dipicu oleh penggusuran seorang nenek berusia 87 tahun, Maricarmen Abascal, dari apartemennya di Madrid bulan lalu.

Diketahui bahwa Abascal, yang seorang pensiunan ini, sudah lebih dari tujuh dekade tinggal di apartemen tersebut.

Abascal terpaksa meninggalkan apartemennya di Madrid yang sudah puluhan tahun dia tinggali, setelah properti tersebut diambil alih oleh sebuah perusahaan investasi yang berencana menaikkan harga sewanya sebesar 275 persen.

Ratusan demonstran nekat berkemah di pusat kota Madrid untuk mendesak dilakukannya reformasi terhadap aturan perumahan.

Penggusuran Abascal memicu kemarahan yang telah lama terpendam terkait melonjaknya harga rumah dan harga sewa tempat tinggal. Menurut situs web properti Idealista, rata-rata harga sewa di Spanyol meningkat hampir dua kali lipat dalam satu dekade terakhir, sedangkan harga rumah melonjak 90 persen.