Kegiatan diikuti oleh 28 anak disabilitas, terdiri dari 18 laki-laki dan 10 perempuan, serta melibatkan enam tenaga pendidik.
Yulita yang telah sekitar 20 tahun mendampingi anak-anak, termasuk anak-anak yang tinggal di panti, menjelaskan bahwa pembelajaran di SLB tidak hanya berfokus pada aspek akademik. Keterampilan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan anak menjalani kehidupan sehari-hari.
Terlebih setelah gempa, katanya, aktivitas anak-anak di panti lebih banyak diarahkan pada kegiatan keterampilan dan aktivitas yang membantu mengurangi rasa trauma, seperti menari dan bernyanyi.
“Di panti pascagempa, pembelajaran lebih banyak ke keterampilan. Anak-anak lebih banyak menari dan menyanyi untuk menghilangkan rasa trauma. Apa yang dilakukan PMI di sini juga sejalan dengan yang kami lakukan,” katanya.
Bagi Yani, siswi kelas 3 SMA di SLB Negeri Ende, lingkungan panti telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kelas 3 SD. Selain mengikuti pembelajaran, ia juga terbiasa membantu berbagai aktivitas sehari-hari di panti, mulai dari mencuci baju, mandi hingga membantu menyuapi makan.
Yani yang bercita-cita menjadi seorang suster mengaku senang ketika PMI hadir dan mengajak mereka belajar sekaligus bermain.