Selain faktor usia dan komorbid, Meidi menyoroti faktor kelelahan fisik, perbedaan waktu (jetlag), serta perbedaan iklim yang ekstrem antara Indonesia dan Arab Saudi.

"Banyak orang hanya fokus pada suhu panas, padahal faktor yang paling krusial adalah kelembapan udara. Kelembapan di Arab Saudi sangat rendah dan kering, bisa mencapai sembilan persen, sangat jauh dibanding Indonesia yang sekitar 50 persen. Udara kering ini memudahkan iritasi dan infeksi pernapasan," jelasnya.

Untuk menekan risiko morbiditas dan mortalitas, Meidi mengingatkan pentingnya rangkaian pemeriksaan kesehatan berjenjang sesuai Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) yang dimulai sejak enam bulan sebelum keberangkatan, mulai dari tingkat Puskesmas, Dinas Kesehatan, hingga di asrama haji.

Pemeriksaan awal di Puskesmas dinilai sangat vital untuk menentukan status istithaah atau kelayakan kesehatan jemaah secara saksama, sehingga intervensi medis dapat dilakukan sedini mungkin.