Fenomena tersebut sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia.

Di tingkat global, podcast telah berkembang menjadi industri dengan beragam bentuk.

The Joe Rogan Experience, misalnya, dikenal dengan percakapan panjang bersama berbagai tamu dari dunia hiburan, olahraga, sains, bisnis, dan bidang lainnya. Spotify mencatat podcast tersebut telah berjalan sejak 2009 dan menjadi salah satu podcast paling banyak didengarkan secara global.

Ada juga Call Her Daddy yang dibawakan Alex Cooper dan banyak membahas hubungan, kehidupan personal, kesehatan mental, serta pengalaman para tamu. Podcast tersebut juga tersedia secara resmi di Spotify.

Sementara The Daily dari The New York Times mengambil pendekatan berbeda. Podcast tersebut berfokus pada berita dan penjelasan mendalam mengenai isu yang sedang menjadi perhatian, termasuk teknologi, ekonomi, dan politik Amerika Serikat. Episode-episodenya tersedia di Spotify.

Ada pula The Diary of a CEO with Steven Bartlett yang banyak mengangkat pembahasan bisnis, kehidupan, psikologi, karier, dan pengalaman para tamunya. Podcast tersebut juga hadir dalam format video di Spotify.

Dari contoh tersebut terlihat bahwa podcast tidak mempunyai satu wajah.

Ia bisa menjadi tempat bercanda, ruang diskusi serius, media berita, tempat belajar, atau sekadar teman ketika seseorang sedang sendirian.

Di tengah semua perkembangan tersebut, radio sebenarnya belum pergi ke mana-mana.

Memang, cara masyarakat mendengarkan radio sudah berubah.

Jika dahulu orang harus memiliki perangkat radio untuk mendengarkan siaran, sekarang banyak stasiun radio menyediakan streaming melalui situs, aplikasi, YouTube, maupun platform digital lainnya. Hal ini pula yang dilakukan Prambors ketika kembali menyiarkan siaran segmen ikonik mereka, yakni The Dandees yang dibawakan oleh Dimas Danang Suryonegoro dan Imam Darto.

Komisi Penyiaran Indonesia pada 2025 menyebut pendengar radio masih bertahan, meskipun cara mengaksesnya sudah semakin beragam dan tidak hanya melalui perangkat radio terestrial. Konten radio juga tetap dinikmati melalui platform digital.

Hal tersebut terlihat dari upaya berbagai lembaga penyiaran untuk beradaptasi.

RRI, misalnya, terus mengembangkan ekosistem digitalnya dan pada 2026 juga mulai memperluas produksi podcast ke Spotify melalui Voice of Indonesia.

Dengan kata lain, radio tidak selalu berusaha melawan podcast.

Dalam banyak kasus, radio justru ikut masuk ke dunia podcast.

Radio punya sesuatu yang sulit digantikan podcast

Ada satu hal yang membuat radio tetap memiliki karakter tersendiri, yaitu sifatnya yang langsung dan direct.

Ketika seseorang menyalakan radio, ia tidak selalu tahu apa yang akan dibicarakan berikutnya.

Ada penyiar yang sedang membahas lalu lintas, lagu yang tiba-tiba diputar, berita terbaru, komentar pendengar, atau percakapan spontan yang muncul di studio.

Pengalaman tersebut berbeda dengan podcast.

Podcast pada dasarnya merupakan konten yang sudah direkam dan dapat dipilih sesuai keinginan. Pendengar memiliki kendali lebih besar terhadap apa yang ingin dikonsumsi.

Radio justru menawarkan unsur kejutan dan kebersamaan.