Pendengar di berbagai tempat bisa mendengarkan program yang sama pada waktu yang sama. Interaksi melalui telepon, pesan, atau media sosial juga dapat membuat hubungan antara penyiar dan pendengar terasa lebih personal.
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia pada Radio Summit XVIII 2025 juga menilai kedekatan antara radio dan pendengar tetap menjadi salah satu kekuatan radio, meskipun medium untuk mengaksesnya telah berubah.
Data menunjukkan keduanya mulai bertemu
Menariknya, persaingan antara podcast dan radio ternyata tidak sepenuhnya berjalan dalam dua jalur yang terpisah.
Survei Populix yang dirangkum GoodStats pada September 2026 menunjukkan 72 persen responden mengonsumsi video podcast dalam 30 hari terakhir, sedangkan podcast audio mencapai 45 persen. Di sisi lain, radio FM/AM melalui perangkat radio masih dikonsumsi 30 persen responden, sementara radio melalui situs web atau aplikasi mencapai 25 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan masyarakat semakin beragam.
Satu orang bisa mendengarkan podcast ketika sedang santai di rumah, menonton video podcast ketika ingin melihat percakapan narasumber, lalu mendengarkan radio saat berkendara.
Bahkan, data yang sama menunjukkan 82 persen audiens mengonsumsi lebih dari satu kanal media dalam 30 hari terakhir.
Ini penting karena perubahan media sebenarnya tidak selalu berarti media lama hilang.
Sering kali yang berubah adalah cara orang mengaksesnya.
Jadi mana yang lebih relevan, podcast atau radio?
Kalau pertanyaannya adalah mana yang lebih relevan, jawabannya bergantung pada kebutuhan pendengar.
Podcast cocok bagi mereka yang ingin menentukan sendiri topik, waktu, pembawa acara, dan episode yang ingin dikonsumsi. Pilihannya sangat luas dan kontennya bisa dinikmati kapan saja.
Radio menawarkan pengalaman yang berbeda. Ada unsur spontanitas, kedekatan dengan penyiar, informasi lokal, musik, lalu lintas, hingga kejadian yang sedang berlangsung.
Podcast lebih kuat pada kebebasan memilih.
Radio lebih kuat pada pengalaman langsung dan rasa ditemani.
Namun, batas keduanya sekarang semakin kabur.
Radio membuat podcast. Podcast hadir dalam bentuk video. Penyiar radio menjadi kreator digital. Sementara podcaster dapat membangun komunitas melalui siaran langsung dan berbagai platform media sosial.
Pada akhirnya, bukan soal podcast menggantikan radio atau radio mengalahkan podcast.
Keduanya sedang bergerak menuju arah yang sama: berusaha tetap hadir di tempat audiens berada.
Dulu, tempat itu adalah pesawat radio. Sekarang, tempat itu bisa berupa ponsel, YouTube, Spotify, aplikasi radio, earphone, atau layar laptop.
Dan mungkin, di masa depan, kita tidak lagi terlalu peduli apakah yang sedang didengarkan disebut radio atau podcast.
Yang penting, ada suara dan topik yang menarik untuk menemani perjalanan pulang, pekerjaan yang belum selesai, atau sekadar menemani waktu santai ketika dunia sedang terasa terlalu ramai.