Ukuran yang sangat halus ini memungkinkan abu menembus sistem penyaringan alami di hidung dan meluncur langsung menuju saluran pernapasan bagian dalam hingga ke alveolus paru-paru.

"Secara kimiawi, partikel abu vulkanik diselimuti oleh senyawa asam seperti asam sulfat dan asam klorida, serta mengandung berbagai logam berat dan mineral. Ketika tersedot atau menempel pada jaringan tubuh yang basah, kandungan asam ini bereaksi secara agresif," kata Daryono.

Dampak abu vulkanik tidak hanya memicu peradangan pada saluran pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan iritasi parah, rasa terbakar pada mata, serta gangguan pada kulit. Dalam jangka pendek, paparan abu ini langsung memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk kering, sesak napas, terutama bagi penderita asma, serta iritasi mata.

"Untuk jangka panjang, endapan silika bebas yang tertimbun di dalam paru-paru dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut permanen (silikosis), yang berisiko menurunkan fungsi paru-paru secara drastis," kata Daryono.