NADIKABAR.COM — Polda Metro Jaya masih menyelidiki kasus dugaan penganiayaan saat acara Maulid Nabi di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Amanda Andono, korban dugaan penganiayaan kembali menjalani pemeriksaan.

Amanda mengatakan pemeriksaan tersebut merupakan tindak lanjut dari laporan polisi yang dibuatnya pekan lalu. Dalam pemeriksaan kali ini, dia diminta menjelaskan secara terperinci kronologi kejadian, mulai dari awal keributan hingga dirinya meninggalkan lokasi.

"Jadi saya diminta untuk menulis dengan detail kejadian bagaimana dari awal dari jam sekitar setengah satu itu kejadian di mana kembang api itu mulai berbunyi sampai saya datang ke sana disusul oleh anak saya, lalu saya dapat perlakuan tidak menyenangkan sampai saya pulang lagi," kata Amanda saat ditemui di Polda Metro Jaya, Jumat (16/10/2026).

Amanda mengatakan dirinya juga telah menjalani visum di Rumah Sakit Polri. Hasil visum tersebut nantinya akan diserahkan langsung kepada penyidik untuk menjadi barang bukti. Dalam pemeriksaan hari ini, penyidik turut mengklarifikasi sejumlah hal terkait hasil visum tersebut.

"Ke visumnya menurut dari Rumah Sakit Polri, visumnya itu akan langsung diberikan kepada tim penyidik. Jadi saya tidak tahu hasilnya cuma mereka tadi terlihat mereka memastikan dari apa hasil visum si ini ya. Sepertinya ditanya tadi ditanya lagi, apakah benar ini, apakah benar ini," jelasnya.

Lebih lanjut, Amanda mengaku belum kembali berkomunikasi dengan pihak penyelenggara acara Maulid Nabi sejak mediasi terakhir yang dilakukan di kantor kelurahan.

"Dari awal sampai sekarang saya hanya ketemu dengan mereka sewaktu dimediasi kedua di kelurahan dengan yang dimediasi oleh dimoderasi oleh Ibu lurah Dina. Tapi ya udah, habis itu tidak ketemu lagi," kata dia.

Amanda menegaskan laporan yang dibuatnya ke polisi berkaitan dengan dugaan tindak kekerasan terhadap perempuan, yang menurutnya juga berdampak pada anaknya.

"Sebetulnya adalah inti dari permasalahan ini, yang saya laporkan ini adalah tindak kekerasan terhadap perempuan, saya sebagai ibu dan anak saya," katanya.Selain dugaan kekerasan, Amanda juga mempersoalkan suara keras kembang api yang dinyalakan pada tengah malam. Dia mengatakan suara dentuman tersebut mengganggu waktu istirahat warga, termasuk dirinya dan anaknya, Sandra.

"Saya dan Sandra punya protes yang sama yaitu berisik di tengah malam, di mana waktunya orang sudah deep sleep gitu kok tiba-tiba ada kembang api ini ya, ini bukan petasan biasa, ini kembang api festival gitu yang suaranya tuh bener-bener jeder, jeder, dan dentumannya itu terdengar sampai radius lebih dari 1 kilo saya rasa," sambung dia.

Sebagaimana diketahui, rekaman video beredar memperlihatkan acara Maulid Nabi di Pondok Pinang, Jaksel, diprotes warga hingga berujung ribut. Warga merasa terganggu lantaran acara tersebut dibarengi dengan menyalakan petasan hingga Sabtu (3/10) dini hari.

Kericuhan diduga bermula dari penggunaan petasan yang terus dinyalakan hingga sekitar pukul 01.00 WIB. Aksi menyalakan petasan itu membuat warga merasa terganggu.Dalam rekaman video yang viral di media sosial, terlihat seorang ibu memprotes penyalaan kembang api di acara maulid tersebut. Wanita itu protes karena petasan dinyalakan hingga dini hari dan mengganggu waktu istirahat.

Disebutkan pula sejumlah anak terbangun dan menangis imbas suara petasan itu. Situasi kian panas ketika seorang ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus menyampaikan keluhannya kepada penyelenggara.

Ibu tersebut juga menyebutkan bahwa penyalaan petasan tersebut membuat anaknya tremor. Beberapa warga ada yang menenangkan ibu tersebut, namun sebagian peserta acara justru balik marah-marah dan menyebutnya kafir.Ketegangan sempat terjadi saat ibu tersebut mencoba meminta panitia tersebut datang. Beberapa warga terlihat mengintimidasi korban dan memegang koran.