"Kami tidak akan dibungkam," tegas mereka dalam pernyataan yang diunggah di media sosial, disertai foto-foto pengunjuk rasa yang mengalami memar atau pendarahan akibat apa yang mereka sebut sebagai "kekerasan polisi."
Beberapa pengunjuk rasa tampak membawa bunga anyelir merah, simbol revolusi Portugal tahun 1974, yang merujuk pada pemberontakan damai yang dipimpin militer, yang kala itu berhasil mengakhiri hampir lima dekade kediktatoran. Polisi menyatakan telah menyita 69 tenda di Lisbon dan 30 tenda di Porto.
Perkemahan tersebut didirikan pada Sabtu malam menyusul aksi unjuk rasa damai di kedua kota itu untuk memprotes lonjakan biaya perumahan.
Dalam beberapa pekan terakhir, aparat kepolisian telah berulang kali membongkar perkemahan yang bermunculan di berbagai lokasi di Lisbon dan Porto.
Amnesty International menyatakan "sangat prihatin dengan penggunaan kekuatan yang berlebihan dan tidak proporsional oleh pihak kepolisian".
Ricardo Sa Fernandes, seorang pengacara yang mewakili para pengunjuk rasa di lokasi perumahan di Lisbon, mengatakan ia akan mengajukan tuntutan pidana terhadap menteri dalam negeri dan kepala kepolisian nasional atas penyalahgunaan wewenang.
"Ini adalah malam kelam dalam sejarah demokrasi Portugal. Hal ini sama sekali tidak dapat ditoleransi dan telah melampaui segala batas," ujarnya kepada para wartawan di luar kantor polisi di Lisbon, tempat sebagian orang yang ditahan dibawa.