NADIKABAR.COM β Polri mendorong penggunaan pendekatan spasio-temporal dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak dini melalui pemetaan potensi kebakaran berdasarkan lokasi, waktu kejadian, kondisi iklim, dan karakteristik lahan.
βPenanganan karhutla tidak boleh hanya menunggu api muncul. Kita harus mampu membaca pola kebakaran, mengetahui wilayah yang paling rawan, dan melakukan langkah pencegahan sebelum kebakaran meluas,β kata Kepala Baharkam Polri Komjen Pol. Herry Heryawan sebagaimana dikutip dari keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu.
Herry menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan Analisis dan Evaluasi Penanganan Karhutla pada Sabtu (31/10). Menurut dia, pendekatan spasio-temporal memungkinkan kepolisian mengidentifikasi wilayah rawan dan pola kebakaran yang berulang sehingga pencegahan dapat dilakukan lebih awal.
Dalam paparannya, Herry menjelaskan hasil simulasi pola karhutla selama 20 tahun di Kabupaten Pelalawan, Riau. Hasil analisis menunjukkan titik panas (hotspot) cenderung berulang di lokasi yang sama, sedangkan fenomena El Nino meningkatkan risiko kebakaran, terutama ketika kondisi gambut semakin kering.
Dalam simulasi tersebut, rata-rata titik panas pada tahun El Nino mencapai 362 titik, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 42 titik pada tahun lainnya.
Analisis juga mengidentifikasi sejumlah kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi, antara lain Kerumutan, Teluk Meranti Timur, Teluk Meranti Barat, dan Bandar Petalangan.