"Melalui pemberdayaan warga mengubah pekarangan yang kurang produktif menjadi 'lumbung protein' keluarga," ujarnya.
Ia menyebut telur yang dipanen digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, sedangkan sebagian hasil produksi dijual sehingga dapat menghasilkan kas yang diputar kembali untuk memenuhi kebutuhan budidaya.
"Program ini juga untuk kemandirian ekonomi dengan memanfaatkan sebagian hasil produksi untuk dijual sehingga menghasilkan kas harian/mingguan yang diputar kembali untuk membeli ayam, pakan, dan kebutuhan rumah tangga," katanya.
Ketua Kelompok Endok Mulyo Sarjana menjelaskan ayam petelur jenis Lohmann yang dibudidayakan memiliki kemampuan produksi sekitar satu butir telur per ekor setiap hari.
"Produksi harian masing-masing peternak kurang lebih tiga sampai empat butir telur karena ada tiga hingga lima ekor ayam," katanya.