Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menjelaskan bahwa Jakarta Film Summit dirancang sebagai forum pembahasan masa depan industri perfilman. Kegiatan ini melengkapi Jakarta Film Week yang berfokus pada festival dan pemutaran film.
Rano menyampaikan, jumlah penonton film di Indonesia pada 2025 mencapai hampir 122 juta orang, dengan sekitar 85 juta di antaranya merupakan penonton film nasional. Sementara itu, hingga Oktober 2026, jumlah penonton film di Indonesia tercatat hampir 70 juta orang.
Menurutnya, perkembangan tersebut perlu didukung dengan pemetaan kontribusi ekonomi yang lebih akurat. Pemprov DKI Jakarta disebut berencana memperkuat kerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam mengukur dampak ekonomi industri kreatif, termasuk perfilman.
"Ekonomi kreatif memiliki 21 subsektor. Kami ingin bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengukur dampak ekonomi dari sektor ini secara lebih terstruktur, termasuk kontribusi industri perfilman," ujar Rano.
Ia menyatakan, pengembangan layanan Filming in Jakarta akan terus diperkuat melalui kolaborasi dengan mitra internasional dan berbagai daerah di Indonesia.
Langkah ini diharapkan mempermudah kegiatan produksi, serta membuka kesempatan bagi kekayaan budaya, lokasi, dan talenta Nusantara untuk tampil dalam karya perfilman yang menjangkau pasar global.
Melalui Jakarta Film Summit 2026, DKI didorong menjadi kota sinema yang mampu menarik investasi, membuka lapangan kerja, memperkuat ekonomi kreatif, serta membawa karya perfilman Indonesia ke panggung dunia.