Presiden menyinggung sejumlah pemberontakan pada masa lalu sebagai bentuk politik pecah belah atau divide et impera, mulai dari DI/TII, Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), RMS, PRRI/Permesta, hingga pemberontakan 1948.

Ia juga mengingatkan krisis 1997-1998, ketika banyak pihak meramalkan, berharap agar Indonesia terpecah.

"Mereka yakin Indonesia pecah tahun 99, tahun 2000. Ternyata kita punya ketahanan nasional yang cukup kuat saudara-saudara sekalian," kata Prabowo.