Meski punya manfaat untuk memperlambat rambatan api, pati singkong perlu bahan lainnya. BRIN tengah mengembangkan teknologi itu, di mana pati singkong dikombinasikan dengan ammonium polyphosphate (APP) atau garam anorganik dari amonia dan asam polifosfat, air, dan wetting agent berkonsentrasi rendah.

"Bahan ini dirancang bekerja melalui beberapa mekanisme yang saling melengkapi. Air berfungsi menyerap panas dan menurunkan temperatur bahan bakar, pati singkong termodifikasi membantu meningkatkan adhesi dan mempertahankan cairan lebih lama pada permukaan vegetasi," papar Julinton.

"Sementara, wetting agent membantu cairan menyebar dan menembus bahan bakar vegetasi dengan lebih baik. APP kemudian memberikan mekanisme retarsasi kimia ketika material menerima panas," sambungnya.

Saat APP dipanaskan, spesies asam fosfat dan polifosfat bisa merangsang berbagai senyawa di dalam pati singkong. Hal ini bisa membentuk banyak karbon padat atau char dan mengurangi pembentukan senyawa volatil yang mudah terbakar.

Lapisan char adalah komponen penting yang akan bertugas menghalangi perpindahan panas dan massa. Char juga bisa membatasi kontak langsung tim redaksi bahan bakar dan oksigen yang dapat membuat api semakin berkobar.

"Teknologi ini tidak bekerja dengan 'menghilangkan oksigen' dari atmosfer. Mekanisme utamanya adalah pendinginan, peningkatan pembasahan dan retensi cairan, serta perubahan jalur dekomposisi termal bahan bakar vegetasi, sehingga laju perambatan api berpotensi ditekan," kata Julinton lagi.

Proses produksi metode pemadaman api menggunakan pati singkong dan APP, dimulai dengan ekstraksi pati singkong mentah. Bahan ini kemudian dimurnikan dan dimodifikasi secara kimia untuk memperoleh karakteristik yang sesuai.

Modifikasi dilakukan untuk meningkatkan kestabilan formulasi, kemampuan membentuk film, retensi air, dan sinergi dengan APP. Hasil modifikasi ini kemudian diformulasikan dengan APP atau komponen fosfat yang sesuai, wetting agent berkonsentrasi rendah, dan air.