"Komposisi masing-masing komponen tidak ditetapkan secara arbitrer, tetapi akan dioptimalkan berdasarkan viskositas, stabilitas penyimpanan, sedimentasi, redispersibilitas, tegangan permukaan, pembentukan droplet, kompatibilitas material, dan kinerja pemadaman," urainya.
Di lapangan, bahan formulasi ini dicampurkan ke dalam tangki air sebelum penyemprotan. Secara taktis, cairan ini berpotensi dikembangkan untuk aplikasi udara maupun darat.
Tetapi, jika diaplikasikan melalui udara, bahan harus diformulasikan dengan ukuran droplet yang sesuai. Alasannya agar ketika disemprotkan, cairan tidak cepat hilang karena penguapan.
Untuk operasi berbasis drone, formulasi dapat disemprot secara presisi pada titik api awal, sisi atau flank kebakaran, spot fire, serta pembentukan garis retardan pada vegetasi yang belum terbakar. Dalam menentukan titik-titik panas, proses penyiraman bisa dilengkapi dengan kamera termal.
Sedangkan dalam operasi darat, armada bisa langsung menyemprotkan cairan langsung ke bahan bakar vegetasi di sekitar titik api. Cairan juga bisa disemprotkan pada area yang perlu dilindungi.
"Pendekatan lainnya adalah membentuk retardant line, yaitu jalur vegetasi yang telah dilapisi bahan retardan untuk memperlambat perambatan api menuju area berikutnya," jelas Julinton.
BRIN menegaskan tekonologi ini bukanlah pengganti seluruh metode pemadaman yang telah tersedia pada kebakaran dengan intensitas tinggi. Bukan penanggulangan, teknologi ini dikembangkan terutama sebagai teknologi pendukung untuk respons awal, pengendalian penyebaran, perlindungan area strategis, dan pemadaman spot fire yang terintegrasi tim redaksi personel darat dan sistem pemadaman lainnya.
Teknologi atau inovasi ini saat ini masih dikembangkan oleh BRIN. Keselamatan lingkungan masih harus dibuktikan melalui pengujian biodegradabilitas, fitotoksisitas, dampak terhadap organisme tanah dan air, kandungan serta pelepasan fosfat dan nitrogen, serta karakteristik residu setelah pembakaran.