Prajurit kedua negara itu mempelajari cara mengenali tumbuhan, dedaunan dan satwa yang dapat dijadikan sumber makanan, dan mereka juga belajar membedakan dari yang berbahaya atau tidak layak dikonsumsi.

Pengetahuan ini menjadi bekal penting agar prajurit mampu mengambil keputusan tepat dan menghindari risiko keracunan maupun bahaya satwa liar ketika jauh dari dukungan logistik.