Sepuluh finalis tersebut mendapatkan pembekalan dan diminta menyusun proyek kampanye literasi digital. Proyek itu kemudian dipresentasikan di hadapan dewan juri yang terdiri dari unsur Pemprov DKI, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta praktisi dan pegiat konten.

Dari proses tersebut, terpilih dua pelajar sebagai Duta Antihoaks Jakarta 2026, yakni Winda dan Ibrahim.

Marulina mengatakan kedua duta tersebut akan menjalankan sejumlah program selama satu tahun ke depan. Di antaranya kegiatan edukasi antihoaks ke sekolah-sekolah, kampanye digital bulanan, hingga pembentukan agen antihoaks di lingkungan sekolah.

"Nanti mereka akan pergi juga ke sekolah-sekolah, mengunjungi sekolah untuk memberikan edukasi interaktif bersama Diskominfotik dan juga Komdigi RI," ujarnya.

Selain itu, para duta akan mengembangkan kampanye edukasi berbasis isu-isu Jakarta. Pemprov DKI juga akan mengukur perubahan perilaku masyarakat setelah program tersebut berjalan.