NADIKABAR.COM — Prancis dilanda gelombang demonstrasi besar-besaran yang berujung kerusuhan di sejumlah kota pada pertengahan Oktober 2026. Aksi yang awalnya dipicu persoalan pendidikan dan kondisi sekolah itu berkembang menjadi gerakan yang lebih luas, mencerminkan kemarahan masyarakat terhadap kenaikan biaya hidup, ketimpangan ekonomi, dan penurunan kualitas layanan publik.
Situasi memanas pada Sabtu (17/10), ketika ratusan ribu orang turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis. Sebagian besar demonstrasi berlangsung damai, tetapi sejumlah kelompok terlibat bentrokan dengan polisi, melakukan penjarahan toko, membakar kendaraan, dan merusak bangunan publik.
Reuters melaporkan pada 18 Oktober 2026 bahwa kerusuhan tersebut menjadi salah satu gelombang kekerasan terparah yang dialami Prancis dalam beberapa tahun terakhir. Presiden Emmanuel Macron menyerukan ketenangan sekaligus menegaskan bahwa tuntutan demonstran yang damai harus dibedakan dari tindakan kriminal.
Lantas, apa yang sebenarnya menyebabkan Prancis dilanda gelombang protes besar-besaran hingga berujung kerusuhan?
1. Kenaikan biaya hidup dan tekanan ekonomi
Salah satu pemicu utama demonstrasi adalah meningkatnya beban ekonomi masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dan biaya bahan bakar membuat banyak warga merasa semakin sulit mempertahankan daya beli mereka.
Persoalan tersebut menjadi semakin sensitif karena masyarakat menilai kebijakan pemerintah belum cukup menjawab kebutuhan kelompok berpenghasilan rendah dan menengah.
Kemarahan terhadap kondisi ekonomi ini mengingatkan publik pada gerakan Yellow Vests atau Gilets Jaunes yang muncul pada 2018. Saat itu, kenaikan pajak bahan bakar menjadi salah satu pemicu demonstrasi yang kemudian berkembang menjadi protes lebih luas terhadap ketimpangan dan kebijakan ekonomi pemerintah.
Pada Oktober 2026, kekecewaan serupa kembali mengemuka. Namun, demonstrasi kali ini juga melibatkan pelajar, mahasiswa, guru, serikat pekerja, dan kelompok masyarakat lain yang memiliki tuntutan berbeda.
2. Kondisi sekolah dan kekurangan tenaga pengajar
Gelombang demonstrasi terbaru di Prancis bermula dari persoalan pendidikan, khususnya kondisi sekolah menengah yang dinilai semakin memprihatinkan.
Aksi mulai berkembang pada September 2026 setelah muncul protes terkait kekurangan guru dan tenaga pendukung, keterbatasan sumber daya, serta kondisi bangunan sekolah yang membutuhkan perbaikan.
Salah satu titik awalnya adalah aksi mogok tenaga sekolah di Lycée Saint-Exupéry di wilayah Créteil pada 17 September. Pelajar kemudian ikut menyuarakan keberatan terhadap kondisi pembelajaran yang mereka anggap tidak memadai.