Dalam perkembangannya, aksi menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Paris, Marseille, Lyon, Lille, dan Bordeaux. Guru, orang tua, serta serikat pekerja turut bergabung untuk mendesak pemerintah memperbaiki fasilitas pendidikan dan memenuhi kebutuhan tenaga pengajar.
Masalah pendidikan kemudian menjadi pintu masuk bagi tuntutan yang lebih luas, terutama mengenai ketimpangan sosial, anggaran layanan publik, dan masa depan generasi muda.
3. Kekecewaan terhadap pemerintah dan ketimpangan sosial
Di balik persoalan ekonomi dan pendidikan, demonstrasi juga mencerminkan ketidakpuasan terhadap arah kebijakan pemerintah Presiden Emmanuel Macron.
Sebagian demonstran menilai layanan publik semakin terbebani, sementara masyarakat menghadapi tekanan ekonomi yang tidak sebanding dengan kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan yang terjadi bukan sekadar protes terhadap satu kebijakan. Ada akumulasi kekecewaan yang melibatkan berbagai kelompok dengan kepentingan berbeda.
Gerakan mahasiswa dan pelajar pun bertemu dengan kelompok yang sebelumnya memperjuangkan isu biaya hidup, kesejahteraan pekerja, dan pemerataan ekonomi. Perpaduan tuntutan tersebut membuat demonstrasi berkembang menjadi tantangan politik yang lebih besar bagi pemerintah.
Situasinya semakin sensitif menjelang pemilihan presiden Prancis pada 2027. Ketidakpuasan masyarakat berpotensi menjadi isu penting dalam persaingan politik mendatang.
Demonstrasi berubah menjadi kerusuhan
Besarnya jumlah demonstran tidak berarti seluruh peserta terlibat dalam kekerasan. Sebagian besar massa turun ke jalan untuk menyampaikan tuntutan secara damai, sedangkan kerusuhan melibatkan kelompok-kelompok yang melakukan perusakan, penjarahan, dan bentrokan dengan aparat.
Pada 17 Oktober, sejumlah kota mengalami insiden serius. Balai Kota Limoges terbakar, bangunan publik di Marseille diserang, sedangkan fasilitas dan pertokoan di Lyon turut mengalami kerusakan.
Di Paris, bentrokan terjadi ketika polisi berusaha mengendalikan massa. Aparat menggunakan gas air mata dan melakukan tindakan pengamanan untuk membubarkan kelompok yang terlibat kekerasan.
Pemerintah Prancis menyalahkan kelompok ekstrem kiri dan pelaku kriminal atas sejumlah aksi perusakan. Namun, tuduhan tersebut merupakan penilaian pihak berwenang dan tidak berarti semua demonstran berasal dari kelompok tersebut.