NADIKABAR.COM — Kementerian Luar Negeri Prancis menyatakan bersedia membantu melindungi infrastruktur energi Arab Saudi dalam kapasitas yang murni defensif di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan tersebut.
"Kami meyakinkan Arab Saudi akan solidaritas penuh kami dalam menghadapi serangan-serangan ini," kata seorang juru bicara kementerian tersebut pada Kamis (8/10).
Juru bicara tersebut mengatakan Prancis bersedia ikut serta dalam melindungi infrastruktur energi, khususnya fasilitas di Yanbu dan pipa minyak Timur-Barat (East-West pipeline).
"Kesediaan kami untuk berpartisipasi, dengan cara yang murni bersifat defensif, dalam perlindungan infrastruktur energi, khususnya Yanbu dan jalur pipa minyak Timur-Barat di Arab Saudi," kata juru bicara tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah kelompok Houthi di Yaman memperingatkan maskapai penerbangan pada Senin (5/10) bahwa wilayah udara Arab Saudi berpotensi menjadi medan operasi militer.
Arab Saudi melaporkan tiga korban tewas pada Rabu (7/10) akibat serangan yang menargetkan bandara-bandara di negara itu, termasuk satu bandara di Ibu Kota Riyadh.
"Kami telah dengan tegas mengecam semua serangan oleh kelompok Houthi ini, yang harus dihentikan, terutama serangan terbaru yang Anda sebutkan kemarin," kata juru bicara tersebut.
Mengenai Selat Hormuz, kementerian tersebut menyatakan komunitas internasional memiliki kepentingan bersama dalam memulihkan lalu lintas maritim dan menegakkan hukum internasional.
"Kami, komunitas internasional, memiliki kepentingan bersama untuk secara ketat menegakkan hukum internasional guna memulihkan arus lalu lintas maritim di sepanjang Selat Hormuz," kata juru bicara tersebut.
Prancis juga berpartisipasi dalam operasi keamanan maritim Uni Eropa, Aspides, di kawasan tersebut, kata juru bicara tersebut, tanpa mengungkapkan aset Prancis yang terlibat.
"Prancis turut serta dalam operasi Aspides, dengan aset-aset yang bukan wewenang saya untuk berkomentar," ujarnya.
Juru bicara tersebut mengatakan Prancis telah mendukung misi tersebut sejak diluncurkan pada Februari 2024 dan akan terus mendukung pelaksanaannya serta setiap perkembangan yang mungkin terjadi, tergantung pada kondisi keamanan regional.
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia