NADIKABAR.COM — Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. mengatakan negosiasi antara China dan ASEAN mengenai Kode Etik (CoC) Laut China Selatan terus menunjukkan kemajuan meskipun masih ada perbedaan pendapat yang berkepanjangan.

"Kami bekerja sangat, sangat keras, dan sebenarnya kami telah membuat kemajuan yang baik terkait tata perilaku tersebut," kata Marcos dalam acara Konferensi ke-24 CEO Global Forbes di Singapura, menurut laporan Philippine Daily Inquirer, Kamis (8/10).

Marcos pun mengakui adanya kesulitan dalam negosiasi tersebut, dengan mengatakan definisi kata-kata umum pun telah menjadi sumber perdebatan.

"Ketakutan terbesar saya adalah jika nanti ada seorang pelaut atau tentara melakukan kesalahan, dan kesalahan itu berkembang menjadi sesuatu yang tak terkendali," katanya.

Marcos tiba di Singapura pada Rabu (7/10) untuk melakukan kunjungan selama lima hari guna memperkuat kerja sama ekonomi dan menarik investasi di sektor-sektor industri baru yang sedang berkembang di Filipina.

Badan Informasi Filipina, yang dikelola pemerintah, menyatakan agenda kunjungan Marcos itu mencakup pertemuan dengan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong serta kunjungan ke Institut Penelitian dan Keselamatan Nuklir Singapura.

ASEAN dan China telah mengadopsi deklarasi tidak mengikat mengenai tata perilaku di perairan yang disengketakan pada tahun 2002, tetapi negosiasi untuk mencapai kesepakatan substantif telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Filipina juga telah berulang kali menuduh kapal China melakukan manuver berbahaya terhadap kapal Filipina, sementara Beijing tetap mempertahankan klaim maritimnya. ASEAN dan China menargetkan penyelesaian negosiasi CoC pada akhir 2026.

Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia