NADIKABAR.COM — Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya tidak lagi mempercayai negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) setelah putaran pembicaraan sebelumnya diikuti oleh serangan dan sanksi. Kini, Teheran menantikan tanggapan atas usulan terbarunya untuk mengakhiri perang.
"Kami tidak memiliki kepercayaan terhadap pihak Amerika dan tidak tahu atas dasar apa kesepahaman dapat dicapai dengan mereka," ujar Pezeshkian seperti dilansir Al-Jazeera, Minggu (27/9/2026).
Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengunjungi AS pekan ini untuk menghadiri pertemuan para pemimpin dunia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Iran mengusulkan kesepakatan yang akan mengakhiri pertempuran dalam perang yang dimulai oleh AS-Israel serta membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.
Araghchi mengatakan kepada wartawan pada hari Jumat bahwa langkah-langkah awal akan memakan waktu empat hingga lima hari, Selat Hormuz akan dibuka kembali pada hari keenam, dan 'pada hari ketujuh, pembicaraan dengan AS akan dimulai untuk kesepakatan akhir mengenai topik-topik yang disepakati bersama' yang merujuk pada program nuklir Iran.
Berdasarkan rencana tersebut, Washington akan mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, menangguhkan sanksi atas penjualan minyak Iran, mencairkan aset Iran yang dibekukan senilai sekitar 12 miliar dolar AS, serta mematuhi gencatan senjata yang mencakup wilayah tersebut, termasuk Lebanon dan Yaman. Sebagai imbalannya, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz-jalur yang dilalui seperlima dari perdagangan minyak dan gas dunia sebelum perang dan kini menjadi alat tawar utama Teheran.
Kembali ke Pezeshkian, dia mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pihak penengah, yaitu Qatar dan Pakistan, sedang menyampaikan pesan-pesan Iran kepada Washington. Dia menyatakan negosiasi tersebut didasarkan pada nota kesepahaman (MoU) sebelumnya yang dicapai oleh kedua belah pihak pada bulan Juni dan AS harus memperjelas posisinya mengenai kesepakatan tersebut.
Perang ini bermula pada akhir Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, gugur. Pezeshkian juga membantah Iran bertanggung jawab atas pemblokiran Selat Hormuz sambil mengatakan bahwa AS-lah yang 'menutup jalur tersebut bagi kami'.