Dia menggambarkan penutupan tersebut sebagai 'respons wajar ketika jalur akses menuju Iran diputus'. Dia mengatakan krisis dapat diselesaikan melalui negosiasi, bukan kekerasan, dan jalur perairan tersebut akan dibuka kembali untuk pelayaran komersial jika perundingan berhasil mengakhiri perang.

Pezeshkian menyebut AS sebagai pihak agresor dalam konflik ini. Dia menyatakan Iran 'tidak pernah menyerang negara mana pun selama 200 tahun terakhir'.

Dia mengatakan AS dan Israel telah menyeret negara-negara kawasan ke dalam perang dengan keyakinan bahwa sistem Iran 'akan runtuh dalam hitungan hari'. Namun, katanya, Iran terbukti bertahan.

"Kami bertahan menghadapi serangan Amerika dan Israel, dan kami akan terus berdiri teguh," ujarnya, seraya menambahkan pembunuhan komandan Iran maupun tekanan ekonomi tidak membuat rakyat Iran mundur.

Dia mengatakan Israel dan AS telah menyerang Iran dari wilayah udara negara-negara Islam, dan Iran menargetkan pangkalan-pangkalan yang digunakan pasukan AS di kawasan tersebut karena operasi yang ditujukan terhadap Iran diluncurkan dari sana. Dia menyatakan Teheran tidak menuntut apa pun di luar hukum internasional, katanya, dan hanya bereaksi ketika pihak lain melanggar aturan.

Pezeshkian mengaitkan penerapan sanksi terhadap Iran dengan taktik yang digunakan Israel dalam perang genosida melawan warga Palestina di Gaza.