Teknologi ini bekerja dengan cara memberi kode warna pada layar pemantau operasi secara real-time. Misalnya, jaringan saraf diberi warna hijau, sementara jaringan ikat diwarnai pirus (turquoise). Peta warna digital ini memberi arahan visual yang sangat akurat bagi dokter bedah mengenai area mana yang aman dipotong dan area vital mana yang wajib dihindari.

Hibbert, yang terdiagnosis tumor otak sejak tahun 2024, mengaku sangat bersyukur karena operasi canggih ini berhasil menyelamatkan penglihatannya dari ancaman kebutaan.

"Saya merasa sangat terhormat telah diminta menjadi pasien pertama di dunia dalam riset ini. Rumah sakit ini didirikan pada 1859 sebagai RS bedah saraf pertama di dunia, jadi sangat cocok jika rumah sakit yang sama juga menjadi yang pertama melakukan bedah saraf berbasis AI di dunia," ungkap Rhys Hibbert.

Sistem AI ini dikembangkan secara internal (in-house) oleh UCL Hawkes Institute. Perangkat lunak ini dilatih khusus menggunakan basis data yang berisi ratusan rekaman video operasi otak nyata guna mengenali detail anatomi yang sangat kecil.