Kemudian memastikan teknologi menghasilkan produk yang memenuhi kebutuhan pembeli, serta menjaga agar pemanfaatan baru tidak mengganggu fungsi residu bagi kebun maupun komitmen keberlanjutan di lanskap pasokan.
Dengan pendekatan tersebut, biomassa sawit dapat menjadi peluang diversifikasi bagi pabrik dan perkebunan, tambahnya namun, nilai ekonominya baru akan terwujud jika teknologi, pasokan, logistik, kepastian pasar dan jaminan keberlanjutan berjalan sebagai satu kesatuan.
Senior Project Manager, Landscape, Daemeter Consulting Jimmy Wilopo , memaparkan pembelajaran dari Siak Pelalawan Landscape Programme (SPLP) yang melibatkan sembilan perusahaan hulu dan hilir sawit yang bekerja pada lanskap pasokan yang sama.
Sekitar 20 persen produksi sawit nasional berasal dari Provinsi Riau, lanjutnya, sementara 35 persen lanskap Siak dan Pelalawan merupakan kawasan berhutan, termasuk hamparan gambut yang tersisa di Sumatera.
SPLP, tambahnya, mendorong perusahaan, pemerintah, dan para pemangku kepentingan lokal berbagi tanggung jawab melalui perlindungan hutan dan gambut, pemantauan serta respons terhadap deforestasi, penguatan pekebun dan desa, ketelusuran, dialog sosial dan kolaborasi multipihak.