Artikel itu menarik perhatian banyak orang. Terlebih, karena judul 'sensasional' yang dipakai von Foerster.
Menurut keterangan Time, von Foerster dan kedua rekannya menggunakan model matematika untuk memperkirakan perkembangan populasi manusia. Perhitungan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa pola pertumbuhan penduduk akan terus berlangsung seperti sebelumnya, termasuk dalam kondisi ketika manusia berhasil menghindari bencana besar, meningkatkan produksi pangan, dan membangun masyarakat dunia yang semakin terintegrasi.
Jika asumsi tersebut terus berlaku tanpa perubahan, pertumbuhan populasi akan menjadi semakin cepat hingga mencapai kondisi ekstrem. Model itu kemudian menghasilkan tanggal 13 November 2026 sebagai titik ketika populasi manusia secara matematis akan mendekati tak terhingga.
Ledakan populasi yang tak terkontrol itu melampaui kemampuan Bumi menyediakan sumber daya. Hasilnya, kelaparan dan kematian massal. Itulah yang dimaksud dengan kata 'doomsday' di tulisan von Foerster.
Fakta menariknya, 13 November dipilih von Foerster karena bertepatan dengan hari ulang tahunnya, dikutip dari Times of India. Pemilihan tanggal tersebut bukan semata-mata hasil perhitungan matematika, tetapi juga mengandung unsur humor dan provokasi.
Lebih lanjut, dilansir Tanzania Times, model Matematika yang digunakan Foerster mengandalkan tren populasi historis. Menariknya, realita pertumbuhan setelah penelitian itu dipublikasikan menunjukkan situasi berbeda.
Jumlah manusia memang meningkat, dari 3 menjadi 8 miliar jiwa. Namun, pertumbuhannya tidak 'tidak terkendali' sebagaimana diperkirakan von Foerster. Bahkan, cenderung turun.
Data World O Meter menyebut pada 1960, pertumbuhan populasi berada di 1.67%. Angkanya kemudian turun menjadi 1.64% pada 1961 dan melonjak jadi 2.25% pada 1964. Setelah 1964, persentasi pertumbuhan populasi terus menurun. Data terakhir menunjukkan persentasenya per 2026 sebesar 0.84% saja.