NADIKABAR.COM β€” Industri kecantikan Indonesia kehilangan salah satu tokoh pentingnya setelah Martha Tilaar, pendiri Martha Tilaar Group sekaligus pelopor kosmetik lokal berbahan alami, meninggal dunia pada Rabu (14/10) dalam usia 89 tahun.

Namanya dikenal luas melalui Sariayu, merek kecantikan yang mengangkat kekayaan alam, tradisi perawatan, dan budaya Nusantara.

Martha Tilaar lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 4 September 1937. Perjalanan kariernya menjadi bagian dari perkembangan industri kosmetik nasional, terutama melalui upayanya memadukan ilmu kecantikan modern dengan pengetahuan tradisional Indonesia.

Usaha yang dirintisnya dari sebuah salon sederhana di Jakarta kemudian berkembang menjadi kelompok bisnis yang mencakup produk kosmetik, perawatan tubuh, salon, spa, dan pendidikan kecantikan.

Awal perjalanan Martha Tilaar di dunia kecantikan

Ketertarikan Martha pada dunia kecantikan tumbuh sejak muda. Ia kemudian menempuh pendidikan di bidang kecantikan, termasuk di Academy of Beauty Culture di Bloomington, Indiana, Amerika Serikat. Bekal pendidikan tersebut menjadi salah satu landasan ketika ia mulai membangun usaha sendiri di Indonesia.

Pada 1970, Martha membuka salon kecantikan bernama Martha Salon di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Usaha tersebut bermula dari salon sederhana di garasi rumah orang tuanya. Dari tempat kecil itu, ia mulai mengembangkan layanan kecantikan dengan memadukan teknik modern dan inspirasi perawatan tradisional yang menggunakan bahan-bahan alami.

Pengalaman merintis salon menjadi fondasi bagi pengembangan bisnisnya. Martha tidak hanya melihat kecantikan sebagai layanan perawatan diri, tetapi juga sebagai peluang untuk memperkenalkan pengetahuan tradisional dan kekayaan bahan alam Indonesia melalui produk yang dapat digunakan masyarakat luas.

Sariayu dan perkembangan bisnis kosmetik lokal

Perjalanan bisnis Martha memasuki tahap penting pada 1977 ketika ia bersama mitra usahanya mendirikan PT Martina Berto dan meluncurkan Sariayu sebagai merek produk kecantikan serta jamu modern. Merek tersebut menjadi salah satu identitas utama bisnis yang dibangunnya selama puluhan tahun.

Dalam mengembangkan Sariayu, Martha melakukan riset terhadap manuskrip kuno Keraton Yogyakarta untuk mempelajari tradisi perawatan kecantikan perempuan Jawa. Ia juga melibatkan ahli antropologi guna memahami sejarah dan nilai budaya di balik tradisi tersebut.

Pendekatan itu kemudian diterapkan dalam pengembangan produk yang menggabungkan pengetahuan modern dengan inspirasi bahan alami dan tradisi Indonesia. Pada 1987, Sariayu memperkenalkan koleksi tren warna yang terinspirasi dari keragaman budaya Nusantara.

Bisnisnya terus berkembang melalui berbagai merek, antara lain Biokos, Caring Colours, Belia, dan PAC. Martha Tilaar Group juga memperluas kegiatannya ke bidang perawatan tubuh, layanan salon dan spa, serta pendidikan kecantikan.

Selain membangun usaha kecantikan, Martha dikenal melalui upayanya membuka kesempatan bagi perempuan untuk memperoleh keterampilan dan kemandirian ekonomi.

United Nations Global Compact mengakui kiprahnya sebagai salah satu SDG Pioneers pada 2018 melalui kategori Advancing Sustainability through Community Engagement. Pengakuan tersebut berkaitan dengan pendekatan bisnis yang melibatkan masyarakat, mendukung petani pemasok bahan baku, serta membuka kesempatan kerja dan pelatihan bagi perempuan.

Salah satu program yang dikembangkan adalah Martha Tilaar Training Center, yang memberikan pelatihan bagi perempuan agar dapat bekerja sebagai terapis spa profesional. Menurut United Nations Global Compact, sekitar 5.600 perempuan telah mengikuti pelatihan tersebut dan bekerja di dalam maupun luar Indonesia.

Upaya tersebut memperlihatkan bahwa kiprah Martha tidak hanya berorientasi pada pengembangan produk kecantikan, tetapi juga pada peningkatan keterampilan dan kesempatan ekonomi masyarakat.

Penghargaan atas kontribusi bagi Indonesia

Kontribusi Martha dalam mengembangkan industri kecantikan serta melestarikan tradisi perawatan berbasis jamu dan herbal mendapat pengakuan dari berbagai pihak.

Pada 2016, Presiden Joko Widodo menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada Martha. Penghargaan tersebut diberikan atas jasanya dalam bidang kebudayaan, termasuk pelestarian jamu dan herbal Indonesia.

Ia juga menerima Women Leading the Way Award dari Indiana University Women’s Philanthropy Council pada 2013. Selain itu, Martha memperoleh penghargaan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada 2012 atas kiprahnya di bidang perawatan dan herbal.

Berbagai penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas perjalanan panjangnya dalam mengembangkan bisnis kecantikan sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi Indonesia melalui produk modern.

Warisan Martha Tilaar bagi industri kecantikan

Martha Tilaar meninggal dunia pada Rabu, 14 Oktober 2026, dalam usia 89 tahun. Kabar kepergiannya dikonfirmasi melalui unggahan akun Instagram resmi Sariayu. Ia meninggalkan perjalanan usaha yang bermula dari salon kecil di Menteng hingga berkembang menjadi kelompok bisnis di industri kecantikan nasional.

Selama lebih dari lima dekade, Martha mengembangkan pendekatan kecantikan yang memadukan ilmu modern, bahan alami, dan tradisi Nusantara. Melalui Sariayu dan berbagai unit usaha lainnya, ia turut memperkuat keberadaan merek lokal di tengah perkembangan industri kosmetik.

Perjalanan hidupnya juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan tradisional dapat dikembangkan menjadi produk modern tanpa melepaskan identitas budaya. Kiprah tersebut menjadi bagian penting dari warisan Martha Tilaar bagi industri kecantikan Indonesia.