NADIKABAR.COM — Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi resmi menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10). Ia menggantikan Letjen TNI Suharyanto yang sebelumnya memimpin lembaga tersebut.

Penunjukan Kristomei berlangsung di tengah beragam tantangan penanggulangan bencana di Indonesia. Berbekal pengalaman panjang di lingkungan TNI Angkatan Darat, mulai dari komando pasukan hingga bidang penerangan militer, ia kini dipercaya memimpin lembaga yang berperan dalam koordinasi penanganan bencana nasional.

Latar belakang dan pendidikan militer

Kristomei Sianturi lahir di Kotabumi, Lampung Utara, pada 6 Mei 1976. Ia menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara, Magelang, dan lulus pada 1994. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Akademi Militer (Akmil) dan lulus pada 1997 dari kecabangan Infanteri.

Pendidikan militernya berlanjut melalui Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) dan Sekolah Staf dan Komando TNI (Sesko TNI). Ia juga menempuh pendidikan magister di Universitas Pertahanan, dengan bidang studi manajemen pertahanan. Bekal pendidikan tersebut menjadi bagian dari perjalanan kariernya di berbagai jabatan operasional dan strategis militer.

Mengawali karier dari komando pasukan

Karier Kristomei di TNI diwarnai sejumlah penugasan operasional dan kepemimpinan. Ia pernah menjabat Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 305/Tengkorak pada 2013–2014 serta memimpin Yonif Para Raider 328.

Pada 2017, ia dipercaya menjadi Sekretaris Pribadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Selanjutnya, ia menjabat Asisten Operasi Kepala Staf Kodam I/Bukit Barisan pada 2020–2022. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan kariernya sebelum menempati sejumlah posisi strategis di tingkat TNI.

Pernah menjabat kapuspen TNI dan Pangdam

Selain bertugas di bidang operasional, Kristomei memiliki pengalaman dalam komunikasi publik militer. Ia menjabat Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat pada 2023–2024, kemudian dipercaya sebagai Kepala Pusat Penerangan TNI pada awal 2025.

Ia juga pernah menjabat Wakil Gubernur Akademi Militer pada 2024–2025. Setelah itu, Kristomei memimpin Komando Daerah Militer XXI/Radin Inten yang membawahi wilayah Lampung dan Bengkulu.

Pengalaman di bidang penerangan dan komando kewilayahan menjadi bagian dari rekam jejaknya sebelum dipercaya memimpin BNPB. Dalam tugas barunya, koordinasi lintas lembaga dan penyampaian informasi kepada masyarakat menjadi aspek penting dalam penanganan bencana.

Memiliki pengalaman misi perdamaian internasional

Kristomei juga pernah terlibat dalam misi perdamaian dunia di bawah naungan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon.

Atas penugasannya tersebut, ia memperoleh UNIFIL Medal dan Military Valour Medal dari pemerintah Lebanon. Penghargaan tersebut menjadi bagian dari catatan pengabdiannya selama berkarier di lingkungan militer.

Fokus kolaborasi dan respons cepat penanganan bencana

Usai dilantik sebagai Kepala BNPB, Kristomei menyatakan akan memprioritaskan penanganan bencana yang sedang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk kebakaran hutan dan lahan, banjir, serta erupsi gunung api.

Ia menekankan empat prinsip dalam menjalankan tugasnya, yakni kolaborasi, responsif, integratif, dan sinkronisasi. Menurutnya, penanganan bencana membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari kementerian dan lembaga, TNI, Polri hingga masyarakat.

Kristomei juga menyoroti pentingnya menyelaraskan kebijakan pemerintah pusat dan daerah serta memperkuat koordinasi dengan lembaga terkait, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Sebagai langkah awal, ia berencana melakukan konsolidasi internal untuk mempelajari kondisi lembaga sekaligus memastikan penanganan bencana berjalan cepat dan optimal.

Dengan latar belakang pendidikan militer dan pengalaman di bidang operasional, penerangan, serta komando kewilayahan, Kristomei kini menghadapi tanggung jawab baru dalam memimpin penanggulangan bencana nasional. Koordinasi antarlembaga, kecepatan respons, dan kesiapan menghadapi berbagai ancaman bencana menjadi sejumlah aspek yang akan mewarnai kepemimpinannya di BNPB.