NADIKABAR.COM — Kementerian Pertahanan Korea Selatan (Korsel) menyebut negara tetangganya, Korea Utara (Korut), telah meluncurkan "sekitar belasan" rudal balistik jarak pendek dari lepas pantai timurnya pada Kamis (29/10). Aktivitas peluncuran itu mendorong Seoul untuk meningkatkan kewaspadaannya.
Peluncuran rudal ini terjadi kurang dari sepekan setelah Korsel mengusulkan dialog dengan Korut untuk mengatasi perselisihan perbatasan yang semakin memanas.
Kepala Staf Gabungan Korsel (JCS), seperti dilansir AFP, Kamis (29/10/2026), menyatakan bahwa militer mereka mendeteksi "sekitar belasan rudal balistik jarak pendek yang diluncurkan dari wilayah Wonsan, Korea Utara, ke arah Laut Timur" -- merujuk pada perairan yang juga dikenal sebagai Laut Jepang.
"Militer kami telah meningkatkan pengawasan dan kewaspadaan terhadap kemungkinan peluncuran tambahan," demikian pernyataan JCS.
Militer Korsel, dalam pernyataannya, melaporkan rudal-rudal Korut itu melesat sejauh 250 kilometer.
"Korea Selatan dan Amerika Serikat sedang melakukan analisis detail mengenai spesifikasi persis rudal-rudal tersebut," imbuh militer Korsel.
Secara terpisah, Otoritas Penjaga Pantai Jepang melaporkan bahwa "sebuah objek yang diduga rudal balistik yang diluncurkan dari Korea Utara tampaknya telah jatuh". Kapal-kapal yang ada di perairan itu diimbau untuk tetap waspada.
Peluncuran rudal ini menyusul serangkaian uji coba senjata yang dilakukan Pyongyang baru-baru ini, termasuk yang diklaim sebagai sistem torpedo berpemandu presisi yang baru dan rudal hipersonik jarak menengah -- keduanya diklaim menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Sementara itu, Kantor Keamanan Nasional Korsel menyatakan bahwa peluncuran tersebut melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan menyebutnya sebagai "tindakan serius yang sama sekali tidak membantu dalam menangani situasi saat ini".
Peluncuran terbaru Korut ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea, akibat ledakan ranjau darat di Zona Demiliterisasi (DMZ) -- area perbatasan yang dijaga ketat dan memisahkan kedua Korea. Sedikitnya tiga tentara Korsel luka-luka akibat ledakan ranjau itu.
Investigasi gabungan antara Korsel dan PBB, yang dilakukan awal bulan ini, menyimpulkan bahwa Korut-lah yang telah memasang ranjau darat yang meledak di DMZ tersebut. Tuduhan itu telah dibantah keras oleh Pyongyang.
Seoul menuduh Pyongyang melakukan "pelanggaran terang-terangan terhadap Perjanjian Gencatan Senjata" dan menuntut Korut untuk meminta maaf atas ledakan ranjau tersebut. Kim Yo Jong, adik pemimpin Korut Kim Jong Un, mengecam tuntutan semacam itu sebagai tindakan "tercela".