NADIKABAR.COM β Guru Besar Tetap Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, mengingatkan masyarakat agar tidak menerapkan praktik pengasuhan anak secara turun-temurun tanpa mempertimbangkan hasil penelitian dan kebutuhan masing-masing anak.
Rose mengatakan pengetahuan mengenai tumbuh kembang anak terus berkembang sehingga kebiasaan yang dahulu dianggap baik perlu ditinjau kembali berdasarkan bukti ilmiah dan rekomendasi tenaga ahli.
βJadi kita harusnya menggunakan cara yang terbaik untuk anak berdasarkan apa penelitian, fakta dan sebagainya. Jangan yang dibawa turun-temurun, karena untuk satu orang belum tentu cocok untuk anak yang lain,β kata Rose ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.
Ia mencontohkan pemberian telur mentah atau makanan padat kepada bayi yang belum siap menerimanya. Praktik tersebut dapat menimbulkan risiko kesehatan apabila tidak sesuai dengan usia dan kondisi bayi.
Menurut Rose, orang tua perlu memahami tahapan perkembangan anak, termasuk kesiapan menerima makanan. Jika masih ragu mengenai pemberian makanan atau pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter anak maupun pakar gizi.
Rose menambahkan, setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga pola pengasuhan tidak dapat diterapkan secara seragam kepada semua keluarga.
βTidak ada teori yang bisa dipakai langsung plek-plek kepada keluarga kita. Kadang-kadang harus dimodifikasi,β ujarnya.
Ia menilai pengalaman orang tua dan kakek-nenek tetap dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengasuh anak. Namun, pengalaman tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi anak dan informasi kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Perhatian terhadap keamanan pemberian makanan kepada bayi muncul setelah pemberitaan mengenai bayi di Surabaya yang dilaporkan meninggal setelah diduga diberi telur mentah oleh anggota keluarganya.
Sebelumnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak karena risiko keamanan pangan, termasuk kemungkinan kontaminasi bakteri Salmonella.
Karena itu, pemahaman mengenai tumbuh kembang dan kebutuhan nutrisi anak menjadi penting agar praktik pengasuhan yang diterapkan di rumah tetap aman dan sesuai dengan tahap perkembangan bayi.