NADIKABAR.COM — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk secara resmi mengalihkan pengelolaan lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan perseroan kepada PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau InfraNexia sebagai bagian dari transformasi bisnis dan strategi optimalisasi aset.
Direktur Utama Telkom Indonesia Nanang Hendarno mengatakan langkah tersebut, menyusul persetujuan pemegang saham independen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) atas aksi korporasi pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke InfraNexia.
“Persetujuan ini menjadi landasan bagi Telkom Group untuk merampungkan proses pemisahan yang mencerminkan kepercayaan pemegang saham terhadap agenda transformasi yang kami jalankan,” kata Nanang dalam konferensi pers pemisahan sebagian segmen usaha wholesale fiber connectivity (Tahap 2) Telkom ke InfraNexia, di Jakarta, Rabu.
Nanang mengatakan, pemisahan bisnis tersebut merupakan bagian dari implementasi strategi TLKM 30, khususnya pilar ketiga mengenai unlocking value melalui monetisasi aset bernilai tinggi dan optimalisasi pengelolaan aset.
Dengan pengelolaan infrastruktur yang lebih terfokus di InfraNexia Telkom melihat peluang untuk meningkatkan utilisasi aset, memperluas jaringan dan membangun lebih banyak kemitraan strategis.
“Dengan lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan Telkom yang kini resmi dikelola InfraNexia, kami melihat peluang yang semakin besar untuk meningkatkan utilisasi asetnya, memperluas infrastruktur jaringan dan kemitraan strategis,” ujarnya.
Nanang mengatakan pengelolaan tersebut juga diharapkan dapat membuka akses infrastruktur bagi lebih banyak pelaku industri, sehingga mendukung percepatan pemerataan konektivitas digital di Indonesia.
Di sisi lain, aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari transisi Telkom dari operating holding menuju strategic holding dengan model holdco dan operating company (opco).
Melalui struktur tersebut, masing-masing entitas di dalam Telkom Group diharapkan dapat lebih fokus mengembangkan lini bisnisnya, sementara Telkom berperan pada aspek strategis, termasuk tata kelola dan penciptaan sinergi di tingkat grup.
“Melalui struktur yang semakin fokus, kami ingin memberikan ruang bagi masing-masing entitas untuk pengembangan bisnisnya secara lebih agile, dengan lini usaha yang terkonsentrasi,” kata Nanang.
Telkom berharap transformasi tersebut dapat menjadi katalis bagi sumber pendapatan baru dan menciptakan pertumbuhan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan penciptaan nilai bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan. pemangku kepentingan.