NADIKABAR.COM — Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti krisis air bersih yang meluas di berbagai daerah di Tanah Air akibat kemarau panjang. Dia pun meminta pemerintah memperkuat penanggulangan krisis air ini, termasuk peningkatan infrastruktur di daerah rawan.
"Ketahanan air di Indonesia tengah diuji dengan banyaknya daerah yang mengalami krisis air dan kekeringan akibat kemarau panjang. Pemerintah perlu melakukan intervensi penanggulangan untuk membantu masyarakat terdampak," kata Puan, Rabu (30/9/2026).
Sebagai informasi, krisis air bersih meluas di berbagai daerah. Salah satu daerah yang merasakan krisis air yakni Desa Tuanggeo, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Adapun krisis tersebut sudah berlangsung selama tiga pekan yang membuat warga terpaksa mencari sumber air alternatif.
Salah satu upaya yang dilakukan warga Sikka yakni memanfaatkan air yang keluar dari batang pisang. Air yang diperoleh dari batang pisang tersebut digunakan warga untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mandi, mencuci, hingga memasak. Namun, air tersebut memiliki rasa yang kurang enak karena terasa sepat dan sedikit pahit.
Selain di Sikka, krisis air juga terjadi di sejumlah daerah di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Di Trenggalek, krisis air bersih terjadi di 51 desa yang tersebar di 12 kecamatan dengan 27.786 jiwa terdampak.
Lebih dari 36 ribu jiwa di Boyolali juga terdampak kekeringan sehingga warga terpaksa harus mengantre droping air bersih karena sumur mengering. Kemudian, dilaporkan pula sebanyak 1.196.815 warga di Jawa Barat mengalami krisis air akibat terdampak kekeringan pada musim kemarau ini.