Ke depan, menurutnya, amonia berpeluang menjadi salah satu bahan bakar alternatif dalam ekosistem maritim.

Sejumlah negara juga mulai mengembangkan fasilitas pelabuhan untuk mendukung layanan pengisian bahan bakar amonia, termasuk di kawasan Asia Pasifik.

Rahmad mengatakan dalam hal ini Pupuk Indonesia akan membangun pabrik amonia yang memiliki kapasitas produksi tujuh juta ton per tahun, terbesar di kawasan Afrika Utara, Timur Tengah, hingga Asia Pasifik.

Ia menegaskan penjajakan kerja sama tersebut terbuka dan tidak membatasi keterlibatan mitra asing, melainkan mendorong pengembangan industri dan penciptaan nilai tambah sumber daya alam di Indonesia.

"Yang kita inginkan apa? Nilai tambahnya ada di dalam negeri. Jadi, itu sekali lagi, this is not resource nationalism, this is resource industrialization atau hilirisasi. Kita, ekonomi Indonesia yang terbuka dan kita inginkan Batam akan menjadi salah satu maritim hub yang terbesar di dunia nanti," kata Rahmad.

Dalam rencana penjajakan ini, pihak Pupuk Indonesia masih mengevaluasi beberapa lokasi potensial untuk pembangunan fasilitas pabrik amonia.